Mengenang 40 hari kepergian ibu..
Ibuku.. adalah wanita yang sangat luar biasa..
Bagaimana tidak? Beliau telah mendidik dan membesarkan ke 7 anaknya
dengan sangat luar biasa, walau tak selalu ada suami di sampingnya..
Namun, ketika sudah beranjak dewasa, semua anaknya pun pergi
meninggalkannya, untuk menjemput impian mereka.. Apakah ibu melarangnya?
Tidak! Tentu tidak! Karena bagaimanapun, iibu ingin anak-anaknya
bahagia..
Dan ketika tiba sebuah masa…
Ibuku sudah lelah dan teramat lelah dengan dunia ini.. teramat lelah
untuk memikirkan keadaan kakak-kakakku yang jauh darinya, memikirkan
cucu kembarnya yang baru lahir, memikirkan keluarganya, dan
mengkhawatirkan keadaanku yang hidup di kota sekeras Jakarta..
Dan tak pernah sekalipun ia memikirkan kesehatannya…
Kereta kencana itu pun datang dengan tiba-tiba dan sangat tiba-tiba…
Membuat semua orang yang ditinggalkannya hanya bisa menangisi kepergiannya..
Tapi apa daya..
Air mata dalam duka tak akan mengubah ceritanya..
Yang telah pergi.. tak akan mungkin kembali..
Teramat menyakitkan memang..
Baru kemarin rasanya dilahirkan olehnya.. menghabiskan sebagian besar waktu dengannya..
Berusaha berbakti walau itu tak akan cukup membalas semua pengorbanannya..
Yang tak bisa aku maafkan dari diri ini adalah karena aku belum bisa membahagiakan beliau..
Tapi.. beliau pergi begitu cepat..
Ingin rasanya mengulur mesin waktu..
Berharap ada celah waktu di sana, yang bisa aku lakukan untuk membuat beliau bangga dan bahagia..
Walau itu hanya sedetik..
Sungguh aku tak bisa menghapus linangan air mata ini dari diri..
Aku berusaha tegar, namun terkadang malah tercecar..
Tercecar dalam rangkaian kenangan indah yang telah lama terukir..
Yang membuatku terus terjerembab dalam liang kepedihan..
Ibu…
Bukankah engkau telah mengangguk ucapanku ketika itu.. Bahwa engkau
akan segera sembuh..? Bukankah engkau begitu bersemangat untuk segera
sembuh? Bukankah engkau ingin berkumpul dengan anak-anakmu..
Menghabiskan waktu untuk sekedar melepas rindu.. Tapi bukan berkumpul
dalam rona kesedihan seperti ini, bu..
Masih teringat dalam semua memori di otakku..
Perpisahan terakhir itu..
Ketika aku datang untuk menjengukmu, kau tak lagi menyambut
kedatanganku dengan bahagia dan memelukku dengan kehangatan yang kau
punya.. seperti dulu..
Tapi..
Ketika aku pamit untuk pergi meninggalkanmu…
Ketika itu..
Kita saling bertatap dalam linangan air mata.. Aku berusaha menghapus air mata itu..
Namun, engkau terus menangis.. Hingga aku terus menciumi pipimu..
Tapi air mata itu tak berhenti mengalir dari dua sudut matamu..
Aku membisikkan kalimat yang sudah biasa kau dengar dari mulutku, “
ibu.. cepat sembuh, ya.. sehat-sehat di sini.. nanti ikha balik lagi,
jenguk ibu.. ibu yang sehat, ya..”
Itulah pesan terakhir dariku, dan tak ada sepatah katapun yang kau
ucapkan untukku.. hanya satu kalimat yang biasa aku dengar “hati-hati,
ya..”
Dan ternyata tangisan itulah yang menjadi akhir dari pertemuan kita,
di alam yang fana ini.. Tangisan terakhir yang tak akan pernah aku lihat
lagi..
Kala itu.. Aku begitu yakin engkau akan sembuh..
Aku berjanji untuk membantumu sembuh, dengan semua keterbatasan yang aku punya..
Dan aku akan dengan sangat senang hati untuk merawatmu..
Ya.. Engkau memang sembuh selepas perpisahan denganku..
Tapi hanya beberapa saat.. Setelah itu.. Detik itu..
13-03-2012.. hari yang begitu kelabu dalam sejarah kehidupanku..
Engkau pun kembali kepada NYA.. Innalillahi wainna ilaihi roji’unn..
memang, ALLAH lebih menyayangimu dibandingkan dengan kami,
anak-anaknya.. Tak pernah terlintas dalam pikirku, bayangku, bahkan
dalam mimpiku.. Engkau pergi, pagi itu.. Tak ada firasat apapun..
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah.. Air mata ini tak hentinya mengalir, seakan tak tau kapan akan berakhir..
Dan ketika aku melihat engkau sudah terbujur kaku.. Hancurlah sudah
hatiku ini.. Ternyata benar engkau telah meninggalkanku.. Aku menangis
sejadi-jadinya.. Dalam hatiku menjerit kesakitan..
Tak percaya.. Benar-benar masih tak percaya..
Ketika kain putih itu dibuka.. Barulah aku tau kalau orang yang sedang terbujur kaku itu adalah wanita yang telah melahirkanku..
Ia diam membisu.. Tak lagi mengusap air mataku seperti dulu.. Tak lagi menghibur kesedihanku..
Wajahnya begitu cantik.. Tubuhnya begitu wangi, wangi yang berbeda dari aroma biasanya..
Ia hanya diam ketika aku terus menciuminya..
Mengusap pipi dan keningnya.. Megelus sekujur tubuhnya.. Yang seakan
sudah kaku sekali karena kain putih yang begitu kuat membungkus
tubuhnya..
Mengapa terus diam, ibuku..?
Aku ingin pelukan hangatmu.. Aku ingin senyuman indahmu.. Aku tak ingin kau pergi, malaikat ku..
Ku pandangi kakakku satu persatu.. Yah.. kami mempunyai kenangan yang
berbeda-beda dengan ibu.. Aku tak pernah melihat rona yang begitu
memilukan dari wajah saudara-saudariku..
Walau ayahku terlihat paling tegar, tapi ia luluh juga, akhirnya..
karena bagaimanapun teman hidup beliau selama 40 tahun, ternyata pergi
meninggalkannya begitu cepat..
Ibu..
Anak-anakmu sudah berkumpul di sini..
Rumah kita..
Kami sudah pulang, bu..
Mengapa sekarang engkau yang pergi??
Beberapa hari.. bertambah-tambah hari selepas kepergian ibu..
Aku sungguh tak pernah merasa ibu sudah tiada..
Yang ada di fikiranku hanyalah..
Ibuku sedang pergi untuk sementara..
Entah kemana..
Dan ia pasti akan kembali..
Seolah mengingatkanku saat kecil dulu..
Ketika aku bangun tidur dan mendapati ibu tidak ada di sampingku..
Aku menangis sejadi-jadinya.. Aneh rasanya ketika itu, tak melihat
sosoknya ketika aku bangun dari tidur..
Ibuku kemudian kembali.. Ternyata beliau sedang pergi sebentar..
Hatiku lega kala itu.. Dan berharap sekarang.. hal itu aka terjadi..
Walau mustahil adanya..
Dan saya baru akan sadar jika ibu sudah tiada ketika aku berkunjung ke tempat peristirahatan terakhirnya..
Di sana aku menyaksikan sendiri, detik-detik ibuku menempati rumah barunya..
Ya.. sadarlah, ikha.. ibumu sudah tenang di sana..
Tak ada yang tahu, betapa dalamnya lubang di hati yang begitu..
dalam.. Semenjak ditinggalkan ibu.. Saya berusaha tersenyum, walau di
setiap detikku, tak pernah jauh dari bayangan ibu..
Sebuah goresan hati saat mengingat betapa sulitnya menghadapi saat-saat itu..
Tapi, waktu jualah yang menempaku untuk tegar.. aku sudah ikhlas
dengan kepergian ibu.. aku yakin, syurga sudah merindukan sosoknya, oleh
karena itu, beliau dipanggil lebih cepat.. insyaallah (amin). aku juga
yakin, ALLAH lebih sayang kepada ibu, sehingga tak mau melihat ibu
menderita lebih lama. Dan ibu pun sangat sayang pada keluarganya,
sehingga beliau tak mau merepotkan keluarganya, dan memilih untuk
mengakhiri segalanya lebih cepat..
Ibu.. hanya doa-doa yang hanya bisa aku kirim untuk menemani
hari-harimu.. sungguh, aku berharap engkau lebih bahagia di sana, bu..
insyaallah aku akan berusaha menjadi anak sholihah yang akan terus
mendoakanmu, ibu.. aku tak mau kehadiranku dengan segala pengorbananmu,
hanya akan menjadi mudhorot bagimu..
Aku berharap, kita bisa bertemu di syurganya ALLAH ya, bu.. berkumpul dengan keluarga yang lain..
Ibu.. ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku..
Terimakasih untuk saudara-saudariku yang sudah berpesan sabar
kepadaku.. untuk saudara-saudariku yang sudah menghapus linangan air
mata ini.. terimakasih atas segala dukungannya..
Tenanglah.. aku baik-baik saja.. aku masih punya ayah, kakak,
keponakan-keponakan, sahabat, teman, dan ibu tentunya (walau hanya ada
dalam hatiku), yang menjadi alasanku untuk terus bangkit..
Sayangilah ibu dan ayah mu selagi mereka masih ada di sampingmu.. bahagiakanlah mereka..
Terakhir. Ada satu hal yang membuat aku menangis semenjak kepergian
ibu.. aku menemukan kembali album fotoku yang sudah bertahun-tahun
hilang.. album foto dari masa kecilku sampai aku beranjak remaja.. di
sana juga terpampang, memori kebersamaanku dengan ibu.. taukah dimana
album foto itu berada? Di lemari kamar ibu.. ibu menyimpannya di sana..
tanpa sepengetahuanku..
Artinya.. ada satu atau berjuta hal yang ibu kita lakukan, yang tak pernah engkau bayangkan sebelumnya..
Dan semua yang mereka lakukan adalah bukti kecintaan mereka pada kita
sebagai anaknya.. subhanallah atas ciptaan NYA yang begitu luar biasa..
♥ Ibu Hj. Halimah ♥
Al Fatihah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar