Oase Iman Buya Yahya -
Tanggung Jawab Orang Berilmu
Imam Ghozali dalam muqoddimah kitab bidayatulhidayah memberikan kepada
kita bimbingan dan tuntunan disaat kita berada di sebuah majlis untuk
menuntut ilmu. Tuntunan tersebut adalah tatakrama lahir sekaligus batin
seorang penuntut ilmu. Sengaja oleh Imam Ghozali diletakkan di
muqoddimah karena melihat pentingnya sebuah tuntunan untuk mudah sampai ketempat tujuan.
Imam Ghozali memulai dengan pemacu agar semua dari kita bersemangat
untuk menuntut ilmu Allah SWT. Beliau hadirkan ayat dan hadits keutamaan
majlis ilmu dan para penuntut ilmu. Ternyata Imam Ghozali tidak hanya
sampai di situ, tidak puas jika sudah bisa menyuruh orang menuntut ilmu
akan tetapi beliau juga terlah memberi wejangan yang berupa peringatan
akan adanya jurang yang amat berbahaya yang telah terjerumus didalamnya
orang orang yang berilmu.
Beliau mula-mula menghadirkan hakekat
niat yang menghantarkan seseorang untuk menuntut ilmu. Niat adalah
makna yang tersembunyi di kalbu seseorang dibalik sebuah aktivitas
dhohir. Itulah kuwalitas sebuah pekerjaan dan disitulah letak penilaian
Allah SWT akan sebuah kerja keras seorang hamba.Jika kita berbicara
tentang sebuah proyek maka menuntut ilmu adalah proyek yang amat besar.
Maka dalam beraktivitas menuntut imu amat perlu untuk membenahi niat
agar proyek tersebut ada makna dan nilainya di hadapan Allah SWT. Dan
begitu sebaliknya jika didalam menuntut ilmu telah salah berniat maka
mala petaka yang di dapat adalah paling besarnya malapetaka. Tidak semua
yang berilmu akan selamat, semua tergantung bagaimana menata hati dan
memperjelas maksud dalam menuntut ilmu.
Imam Ghozali
mengingatkan kita, didalam menutut ilmu jangan hanya terpaku kepada
firman dan hadits pembangkit jiwa penuntut ilmu. Akan tetapi hal yang
tidak kalah pentingnya dari itu semua adalah memperhatikan ancaman
Rasulullah SAW terhadap para pengemban ilmu. Suatu ketika Rasulullah
pernah bercerita tentang orang berilmu yang menggunting bibir mereka
dengan gunting dari api neraka. Dalam kesempatan yang berbeda Rasulullah
juga pernah menyebut seorang yang berputar-putar di neraka dengan usus
berbau berceceran yang sungguh membuat ahli neraka merasa tambah
tersiksa.
Disebutkan bahwa orang-orang tersebut adalah
paraulama dan juru dakwah. Jika diamati sebab-sebabnya adalah karena
mereka telah salah berniat dalam menuntut ilmu. Sehingga ilmu yang
diperoleh bukan untuk kesalamatan dirinya di akhirat akan tetapi hanya
untuk mendapatkan keuntungan didunia. Dan kisah-kisah tersebut
disebutkan oleh Rasulullah karena memang hal itu akan terjadi, adanya
ustad tidak pantas menjadi ustad dan kiai yang tidak pantas menjadi
kiai.Orang-orang yang ilmunya hanya dilidah dan baju saja, tidak ada
ilmu yang subur dihatinya. Syetan amat pandai menggoda, mengumandangkan
keutamaan para penuntut ilmu dan melalaikan akan tanggung jawabnya
sebagi pengemban ilmu.
Tujuan syetan agar seorang penuntut ilmu
menjadi penuntut ilmu yang bersemangat mendapatkan ilmu akan tetapi
terjerumus dengan ilmunya. Menyadari pentingnya ilmu adalah penghantar
keseriusan kita didalam menuntut dan menyadari betapa besar tangngung
jawabnya orang berilmu adalah yang menjadikan seseorang akan mudah
mengamalkan ilmunya. Dari sinilah akan muncul satu kerjasama yang baik
antara guru dengan murid. Guru yang amat serius dalam memberi suri
tauladan kepada murid dan muridyang amat patuh, tawadhu' dan mendengar
sang guru yang memang layak untuk dipatuhi dan di dengar. Dari sinilah
akan hadir guru-guru yang sesungguhnya yang sungguh pantas mendapatkan
gelar guru. Dan hanya guru yang sesungguhnyalah yang pantas didatangi
murid.Wallahu a'lam bishshowab.
Hakikat kebahagiaan itu ada di dalam hatimu sendiri, hati yang terpancar seperti telaga, mata airnya selalu jernih.. hati yang bersih dan lapang, hidup sederhana penuh rasa syukur ^^
30/04/13
19/04/13
IBU
Mengenang 40 hari kepergian ibu..
Ibuku.. adalah wanita yang sangat luar biasa..
Bagaimana tidak? Beliau telah mendidik dan membesarkan ke 7 anaknya dengan sangat luar biasa, walau tak selalu ada suami di sampingnya..
Namun, ketika sudah beranjak dewasa, semua anaknya pun pergi meninggalkannya, untuk menjemput impian mereka.. Apakah ibu melarangnya? Tidak! Tentu tidak! Karena bagaimanapun, iibu ingin anak-anaknya bahagia..
Dan ketika tiba sebuah masa…
Ibuku sudah lelah dan teramat lelah dengan dunia ini.. teramat lelah untuk memikirkan keadaan kakak-kakakku yang jauh darinya, memikirkan cucu kembarnya yang baru lahir, memikirkan keluarganya, dan mengkhawatirkan keadaanku yang hidup di kota sekeras Jakarta..
Dan tak pernah sekalipun ia memikirkan kesehatannya…
Kereta kencana itu pun datang dengan tiba-tiba dan sangat tiba-tiba…
Membuat semua orang yang ditinggalkannya hanya bisa menangisi kepergiannya..
Tapi apa daya..
Air mata dalam duka tak akan mengubah ceritanya..
Yang telah pergi.. tak akan mungkin kembali..
Teramat menyakitkan memang..
Baru kemarin rasanya dilahirkan olehnya.. menghabiskan sebagian besar waktu dengannya..
Berusaha berbakti walau itu tak akan cukup membalas semua pengorbanannya..
Yang tak bisa aku maafkan dari diri ini adalah karena aku belum bisa membahagiakan beliau..
Tapi.. beliau pergi begitu cepat..
Ingin rasanya mengulur mesin waktu..
Berharap ada celah waktu di sana, yang bisa aku lakukan untuk membuat beliau bangga dan bahagia..
Walau itu hanya sedetik..
Sungguh aku tak bisa menghapus linangan air mata ini dari diri..
Aku berusaha tegar, namun terkadang malah tercecar..
Tercecar dalam rangkaian kenangan indah yang telah lama terukir..
Yang membuatku terus terjerembab dalam liang kepedihan..
Ibu…
Bukankah engkau telah mengangguk ucapanku ketika itu.. Bahwa engkau akan segera sembuh..? Bukankah engkau begitu bersemangat untuk segera sembuh? Bukankah engkau ingin berkumpul dengan anak-anakmu.. Menghabiskan waktu untuk sekedar melepas rindu.. Tapi bukan berkumpul dalam rona kesedihan seperti ini, bu..
Masih teringat dalam semua memori di otakku..
Perpisahan terakhir itu..
Ketika aku datang untuk menjengukmu, kau tak lagi menyambut kedatanganku dengan bahagia dan memelukku dengan kehangatan yang kau punya.. seperti dulu..
Tapi..
Ketika aku pamit untuk pergi meninggalkanmu…
Ketika itu..
Kita saling bertatap dalam linangan air mata.. Aku berusaha menghapus air mata itu..
Namun, engkau terus menangis.. Hingga aku terus menciumi pipimu.. Tapi air mata itu tak berhenti mengalir dari dua sudut matamu..
Aku membisikkan kalimat yang sudah biasa kau dengar dari mulutku, “ ibu.. cepat sembuh, ya.. sehat-sehat di sini.. nanti ikha balik lagi, jenguk ibu.. ibu yang sehat, ya..”
Itulah pesan terakhir dariku, dan tak ada sepatah katapun yang kau ucapkan untukku.. hanya satu kalimat yang biasa aku dengar “hati-hati, ya..”
Dan ternyata tangisan itulah yang menjadi akhir dari pertemuan kita, di alam yang fana ini.. Tangisan terakhir yang tak akan pernah aku lihat lagi..
Kala itu.. Aku begitu yakin engkau akan sembuh..
Aku berjanji untuk membantumu sembuh, dengan semua keterbatasan yang aku punya..
Dan aku akan dengan sangat senang hati untuk merawatmu..
Ya.. Engkau memang sembuh selepas perpisahan denganku..
Tapi hanya beberapa saat.. Setelah itu.. Detik itu..
13-03-2012.. hari yang begitu kelabu dalam sejarah kehidupanku..
Engkau pun kembali kepada NYA.. Innalillahi wainna ilaihi roji’unn.. memang, ALLAH lebih menyayangimu dibandingkan dengan kami, anak-anaknya.. Tak pernah terlintas dalam pikirku, bayangku, bahkan dalam mimpiku.. Engkau pergi, pagi itu.. Tak ada firasat apapun..
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah.. Air mata ini tak hentinya mengalir, seakan tak tau kapan akan berakhir..
Dan ketika aku melihat engkau sudah terbujur kaku.. Hancurlah sudah hatiku ini.. Ternyata benar engkau telah meninggalkanku.. Aku menangis sejadi-jadinya.. Dalam hatiku menjerit kesakitan..
Tak percaya.. Benar-benar masih tak percaya..
Ketika kain putih itu dibuka.. Barulah aku tau kalau orang yang sedang terbujur kaku itu adalah wanita yang telah melahirkanku..
Ia diam membisu.. Tak lagi mengusap air mataku seperti dulu.. Tak lagi menghibur kesedihanku..
Wajahnya begitu cantik.. Tubuhnya begitu wangi, wangi yang berbeda dari aroma biasanya..
Ia hanya diam ketika aku terus menciuminya..
Mengusap pipi dan keningnya.. Megelus sekujur tubuhnya.. Yang seakan sudah kaku sekali karena kain putih yang begitu kuat membungkus tubuhnya..
Mengapa terus diam, ibuku..?
Aku ingin pelukan hangatmu.. Aku ingin senyuman indahmu.. Aku tak ingin kau pergi, malaikat ku..
Ku pandangi kakakku satu persatu.. Yah.. kami mempunyai kenangan yang berbeda-beda dengan ibu.. Aku tak pernah melihat rona yang begitu memilukan dari wajah saudara-saudariku..
Walau ayahku terlihat paling tegar, tapi ia luluh juga, akhirnya.. karena bagaimanapun teman hidup beliau selama 40 tahun, ternyata pergi meninggalkannya begitu cepat..
Ibu..
Anak-anakmu sudah berkumpul di sini..
Rumah kita..
Kami sudah pulang, bu..
Mengapa sekarang engkau yang pergi??
Beberapa hari.. bertambah-tambah hari selepas kepergian ibu..
Aku sungguh tak pernah merasa ibu sudah tiada..
Yang ada di fikiranku hanyalah..
Ibuku sedang pergi untuk sementara..
Entah kemana..
Dan ia pasti akan kembali..
Seolah mengingatkanku saat kecil dulu..
Ketika aku bangun tidur dan mendapati ibu tidak ada di sampingku.. Aku menangis sejadi-jadinya.. Aneh rasanya ketika itu, tak melihat sosoknya ketika aku bangun dari tidur..
Ibuku kemudian kembali.. Ternyata beliau sedang pergi sebentar.. Hatiku lega kala itu.. Dan berharap sekarang.. hal itu aka terjadi.. Walau mustahil adanya..
Dan saya baru akan sadar jika ibu sudah tiada ketika aku berkunjung ke tempat peristirahatan terakhirnya..
Di sana aku menyaksikan sendiri, detik-detik ibuku menempati rumah barunya..
Ya.. sadarlah, ikha.. ibumu sudah tenang di sana..
Tak ada yang tahu, betapa dalamnya lubang di hati yang begitu.. dalam.. Semenjak ditinggalkan ibu.. Saya berusaha tersenyum, walau di setiap detikku, tak pernah jauh dari bayangan ibu..
Sebuah goresan hati saat mengingat betapa sulitnya menghadapi saat-saat itu..
Tapi, waktu jualah yang menempaku untuk tegar.. aku sudah ikhlas dengan kepergian ibu.. aku yakin, syurga sudah merindukan sosoknya, oleh karena itu, beliau dipanggil lebih cepat.. insyaallah (amin). aku juga yakin, ALLAH lebih sayang kepada ibu, sehingga tak mau melihat ibu menderita lebih lama. Dan ibu pun sangat sayang pada keluarganya, sehingga beliau tak mau merepotkan keluarganya, dan memilih untuk mengakhiri segalanya lebih cepat..
Ibu.. hanya doa-doa yang hanya bisa aku kirim untuk menemani hari-harimu.. sungguh, aku berharap engkau lebih bahagia di sana, bu.. insyaallah aku akan berusaha menjadi anak sholihah yang akan terus mendoakanmu, ibu.. aku tak mau kehadiranku dengan segala pengorbananmu, hanya akan menjadi mudhorot bagimu..
Aku berharap, kita bisa bertemu di syurganya ALLAH ya, bu.. berkumpul dengan keluarga yang lain..
Ibu.. ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku..
Terimakasih untuk saudara-saudariku yang sudah berpesan sabar kepadaku.. untuk saudara-saudariku yang sudah menghapus linangan air mata ini.. terimakasih atas segala dukungannya..
Tenanglah.. aku baik-baik saja.. aku masih punya ayah, kakak, keponakan-keponakan, sahabat, teman, dan ibu tentunya (walau hanya ada dalam hatiku), yang menjadi alasanku untuk terus bangkit..
Sayangilah ibu dan ayah mu selagi mereka masih ada di sampingmu.. bahagiakanlah mereka..
Terakhir. Ada satu hal yang membuat aku menangis semenjak kepergian ibu.. aku menemukan kembali album fotoku yang sudah bertahun-tahun hilang.. album foto dari masa kecilku sampai aku beranjak remaja.. di sana juga terpampang, memori kebersamaanku dengan ibu.. taukah dimana album foto itu berada? Di lemari kamar ibu.. ibu menyimpannya di sana.. tanpa sepengetahuanku..
Artinya.. ada satu atau berjuta hal yang ibu kita lakukan, yang tak pernah engkau bayangkan sebelumnya..
Dan semua yang mereka lakukan adalah bukti kecintaan mereka pada kita sebagai anaknya.. subhanallah atas ciptaan NYA yang begitu luar biasa..
♥ Ibu Hj. Halimah ♥
Al Fatihah..
Ibuku.. adalah wanita yang sangat luar biasa..
Bagaimana tidak? Beliau telah mendidik dan membesarkan ke 7 anaknya dengan sangat luar biasa, walau tak selalu ada suami di sampingnya..
Namun, ketika sudah beranjak dewasa, semua anaknya pun pergi meninggalkannya, untuk menjemput impian mereka.. Apakah ibu melarangnya? Tidak! Tentu tidak! Karena bagaimanapun, iibu ingin anak-anaknya bahagia..
Dan ketika tiba sebuah masa…
Ibuku sudah lelah dan teramat lelah dengan dunia ini.. teramat lelah untuk memikirkan keadaan kakak-kakakku yang jauh darinya, memikirkan cucu kembarnya yang baru lahir, memikirkan keluarganya, dan mengkhawatirkan keadaanku yang hidup di kota sekeras Jakarta..
Dan tak pernah sekalipun ia memikirkan kesehatannya…
Kereta kencana itu pun datang dengan tiba-tiba dan sangat tiba-tiba…
Membuat semua orang yang ditinggalkannya hanya bisa menangisi kepergiannya..
Tapi apa daya..
Air mata dalam duka tak akan mengubah ceritanya..
Yang telah pergi.. tak akan mungkin kembali..
Teramat menyakitkan memang..
Baru kemarin rasanya dilahirkan olehnya.. menghabiskan sebagian besar waktu dengannya..
Berusaha berbakti walau itu tak akan cukup membalas semua pengorbanannya..
Yang tak bisa aku maafkan dari diri ini adalah karena aku belum bisa membahagiakan beliau..
Tapi.. beliau pergi begitu cepat..
Ingin rasanya mengulur mesin waktu..
Berharap ada celah waktu di sana, yang bisa aku lakukan untuk membuat beliau bangga dan bahagia..
Walau itu hanya sedetik..
Sungguh aku tak bisa menghapus linangan air mata ini dari diri..
Aku berusaha tegar, namun terkadang malah tercecar..
Tercecar dalam rangkaian kenangan indah yang telah lama terukir..
Yang membuatku terus terjerembab dalam liang kepedihan..
Ibu…
Bukankah engkau telah mengangguk ucapanku ketika itu.. Bahwa engkau akan segera sembuh..? Bukankah engkau begitu bersemangat untuk segera sembuh? Bukankah engkau ingin berkumpul dengan anak-anakmu.. Menghabiskan waktu untuk sekedar melepas rindu.. Tapi bukan berkumpul dalam rona kesedihan seperti ini, bu..
Masih teringat dalam semua memori di otakku..
Perpisahan terakhir itu..
Ketika aku datang untuk menjengukmu, kau tak lagi menyambut kedatanganku dengan bahagia dan memelukku dengan kehangatan yang kau punya.. seperti dulu..
Tapi..
Ketika aku pamit untuk pergi meninggalkanmu…
Ketika itu..
Kita saling bertatap dalam linangan air mata.. Aku berusaha menghapus air mata itu..
Namun, engkau terus menangis.. Hingga aku terus menciumi pipimu.. Tapi air mata itu tak berhenti mengalir dari dua sudut matamu..
Aku membisikkan kalimat yang sudah biasa kau dengar dari mulutku, “ ibu.. cepat sembuh, ya.. sehat-sehat di sini.. nanti ikha balik lagi, jenguk ibu.. ibu yang sehat, ya..”
Itulah pesan terakhir dariku, dan tak ada sepatah katapun yang kau ucapkan untukku.. hanya satu kalimat yang biasa aku dengar “hati-hati, ya..”
Dan ternyata tangisan itulah yang menjadi akhir dari pertemuan kita, di alam yang fana ini.. Tangisan terakhir yang tak akan pernah aku lihat lagi..
Kala itu.. Aku begitu yakin engkau akan sembuh..
Aku berjanji untuk membantumu sembuh, dengan semua keterbatasan yang aku punya..
Dan aku akan dengan sangat senang hati untuk merawatmu..
Ya.. Engkau memang sembuh selepas perpisahan denganku..
Tapi hanya beberapa saat.. Setelah itu.. Detik itu..
13-03-2012.. hari yang begitu kelabu dalam sejarah kehidupanku..
Engkau pun kembali kepada NYA.. Innalillahi wainna ilaihi roji’unn.. memang, ALLAH lebih menyayangimu dibandingkan dengan kami, anak-anaknya.. Tak pernah terlintas dalam pikirku, bayangku, bahkan dalam mimpiku.. Engkau pergi, pagi itu.. Tak ada firasat apapun..
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah.. Air mata ini tak hentinya mengalir, seakan tak tau kapan akan berakhir..
Dan ketika aku melihat engkau sudah terbujur kaku.. Hancurlah sudah hatiku ini.. Ternyata benar engkau telah meninggalkanku.. Aku menangis sejadi-jadinya.. Dalam hatiku menjerit kesakitan..
Tak percaya.. Benar-benar masih tak percaya..
Ketika kain putih itu dibuka.. Barulah aku tau kalau orang yang sedang terbujur kaku itu adalah wanita yang telah melahirkanku..
Ia diam membisu.. Tak lagi mengusap air mataku seperti dulu.. Tak lagi menghibur kesedihanku..
Wajahnya begitu cantik.. Tubuhnya begitu wangi, wangi yang berbeda dari aroma biasanya..
Ia hanya diam ketika aku terus menciuminya..
Mengusap pipi dan keningnya.. Megelus sekujur tubuhnya.. Yang seakan sudah kaku sekali karena kain putih yang begitu kuat membungkus tubuhnya..
Mengapa terus diam, ibuku..?
Aku ingin pelukan hangatmu.. Aku ingin senyuman indahmu.. Aku tak ingin kau pergi, malaikat ku..
Ku pandangi kakakku satu persatu.. Yah.. kami mempunyai kenangan yang berbeda-beda dengan ibu.. Aku tak pernah melihat rona yang begitu memilukan dari wajah saudara-saudariku..
Walau ayahku terlihat paling tegar, tapi ia luluh juga, akhirnya.. karena bagaimanapun teman hidup beliau selama 40 tahun, ternyata pergi meninggalkannya begitu cepat..
Ibu..
Anak-anakmu sudah berkumpul di sini..
Rumah kita..
Kami sudah pulang, bu..
Mengapa sekarang engkau yang pergi??
Beberapa hari.. bertambah-tambah hari selepas kepergian ibu..
Aku sungguh tak pernah merasa ibu sudah tiada..
Yang ada di fikiranku hanyalah..
Ibuku sedang pergi untuk sementara..
Entah kemana..
Dan ia pasti akan kembali..
Seolah mengingatkanku saat kecil dulu..
Ketika aku bangun tidur dan mendapati ibu tidak ada di sampingku.. Aku menangis sejadi-jadinya.. Aneh rasanya ketika itu, tak melihat sosoknya ketika aku bangun dari tidur..
Ibuku kemudian kembali.. Ternyata beliau sedang pergi sebentar.. Hatiku lega kala itu.. Dan berharap sekarang.. hal itu aka terjadi.. Walau mustahil adanya..
Dan saya baru akan sadar jika ibu sudah tiada ketika aku berkunjung ke tempat peristirahatan terakhirnya..
Di sana aku menyaksikan sendiri, detik-detik ibuku menempati rumah barunya..
Ya.. sadarlah, ikha.. ibumu sudah tenang di sana..
Tak ada yang tahu, betapa dalamnya lubang di hati yang begitu.. dalam.. Semenjak ditinggalkan ibu.. Saya berusaha tersenyum, walau di setiap detikku, tak pernah jauh dari bayangan ibu..
Sebuah goresan hati saat mengingat betapa sulitnya menghadapi saat-saat itu..
Tapi, waktu jualah yang menempaku untuk tegar.. aku sudah ikhlas dengan kepergian ibu.. aku yakin, syurga sudah merindukan sosoknya, oleh karena itu, beliau dipanggil lebih cepat.. insyaallah (amin). aku juga yakin, ALLAH lebih sayang kepada ibu, sehingga tak mau melihat ibu menderita lebih lama. Dan ibu pun sangat sayang pada keluarganya, sehingga beliau tak mau merepotkan keluarganya, dan memilih untuk mengakhiri segalanya lebih cepat..
Ibu.. hanya doa-doa yang hanya bisa aku kirim untuk menemani hari-harimu.. sungguh, aku berharap engkau lebih bahagia di sana, bu.. insyaallah aku akan berusaha menjadi anak sholihah yang akan terus mendoakanmu, ibu.. aku tak mau kehadiranku dengan segala pengorbananmu, hanya akan menjadi mudhorot bagimu..
Aku berharap, kita bisa bertemu di syurganya ALLAH ya, bu.. berkumpul dengan keluarga yang lain..
Ibu.. ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku..
Terimakasih untuk saudara-saudariku yang sudah berpesan sabar kepadaku.. untuk saudara-saudariku yang sudah menghapus linangan air mata ini.. terimakasih atas segala dukungannya..
Tenanglah.. aku baik-baik saja.. aku masih punya ayah, kakak, keponakan-keponakan, sahabat, teman, dan ibu tentunya (walau hanya ada dalam hatiku), yang menjadi alasanku untuk terus bangkit..
Sayangilah ibu dan ayah mu selagi mereka masih ada di sampingmu.. bahagiakanlah mereka..
Terakhir. Ada satu hal yang membuat aku menangis semenjak kepergian ibu.. aku menemukan kembali album fotoku yang sudah bertahun-tahun hilang.. album foto dari masa kecilku sampai aku beranjak remaja.. di sana juga terpampang, memori kebersamaanku dengan ibu.. taukah dimana album foto itu berada? Di lemari kamar ibu.. ibu menyimpannya di sana.. tanpa sepengetahuanku..
Artinya.. ada satu atau berjuta hal yang ibu kita lakukan, yang tak pernah engkau bayangkan sebelumnya..
Dan semua yang mereka lakukan adalah bukti kecintaan mereka pada kita sebagai anaknya.. subhanallah atas ciptaan NYA yang begitu luar biasa..
♥ Ibu Hj. Halimah ♥
Al Fatihah..
Tugas yang Terlantar
Sahabat seiman,
persiapkan kembali perbekalan, perjalanan akan kita lanjutkan lagi,
jangan biarkan lelah dan letih menjajah, jangan diamkan bosan dan jemu
membelenggu..
membelenggu..
ketahuilah
waktu terus berjalan, jatahnya pasti akan habis, tetapi hanya
orang-orang yang bergerak dengan benarlah yang akan sampai ke tujuan..
Sahabat seiman,
Sahabat seiman,
pernahkah kita rasakan betapa seringnya kita memperturutkan jemu?
Banyak alasan yang terlontar untuk dapat menghindar, padahal kita tahu bahwa alasan itu tidak akan membuat tugasnya pudar,
karena akhirnya tugas itupun dilaksanakan juga,
akan tetapi Tanpa disadari banyak tugas menumpuk tertunda
karenanya, banyak hasil kerja yang berkurang kualitasnya karenanya..
Sahabat seiman,
karenanya, banyak hasil kerja yang berkurang kualitasnya karenanya..
Sahabat seiman,
tataplah tugas-tugas kita, kapan akan kita selesaikan?
Akankah
kita menjadikannya menumpuk tertunda, terbengkalai kadaluarsa, atau
menjadi kerugian kita di dunia dan beban kita di akhirat..
Sahabat, yakinlah kita mampu menyelesaikannya..
jadikanlah ia sebagai keuntungan kita di dunia dan kebahagiaan kita di akhirat, mari ikhlaskan niat! (SaiBah)
Senandung pelajaran dari keengganan Bani Israil semoga menjadi nasehat, Allah berfirman, artinya:
“Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya."
Senandung pelajaran dari keengganan Bani Israil semoga menjadi nasehat, Allah berfirman, artinya:
“Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya."
mereka berkata:
"Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya".
Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (Q.S. Al Baqoroh: 71)
"Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya".
Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (Q.S. Al Baqoroh: 71)
Izinkan Aku Copas Catatanmu (Untukmu yang di sana)
Izinkan
Aku Meminangmu by Sinta Yudisia
Perempuan sepertiku tak banyak.
Jangan tertipu oleh angka statistic yang mengatakan, perbandingan lelaki dan perempuan melebihi 1 : 4. Ada banyak kaum hawa di luar sana, tetapi percayalah, yang sepertiku hanya terbatas jumlahnya. Kalau kau bertanya-tanya, seperti apakah aku hingga sedemikian yakinnya, silakan renungkan.
Aku dan Dirimu
Antara aku dan dirimu dibatasi oleh rasa malu dan cinta.
Aku mencintai Robb ku melebihi segalanya, setingkat di bawahnya adalah lelaki paling mulia bernama Muhammad ibn Abdillah Saw. Setingkat di bawahnya adalah para shahabat, para salafus sholih. Setingkat di bawahnya lagi adalah para ulama dan ustadz di zaman ini yang selalu menyiangi taman hatiku dengan nasihat mereka. Layer terbawahnya adalah dirimu.
Jangan khawatir, aku selalu menyisihkan waktu untuk mendoakanmu menjadi pemimpin sejati, meski porsimu hanya kecil di hatiku.
Cintaku padamu, meski tak mutlak, tetap utuh dan sempurna. Sebab ia disempurnakan oleh rasa malu. Malu pada Robb ku jika aku masih meminta sesuatu pada sesuatu selain dariNya. Malu pada Nabiku yang dalam pikirannya hanya terpikir ummat, ummat, ummat; tak tersedia secuil hasrat cinta picisan yang mungkin, sesekali masih menghampiri makhluk sepertiku.
Aku dan Ilmu
Untuk lebih memahami dunia dengan segala permasalahannya, kapal besar yang akan membawa kita menuju negeri abadi, aku membutuhkan ilmu pengetahuan. Karenanya jangan heran, bila sebagian besar waktuku selain terisi oleh ibadah mahdhoh dan nawafil; kupergunakan untuk menimba ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang berada di majelis para sholihin atau di bangku akademis.
Jika, kemudian aku tak menemukanmu, pada akhirnya ilmu pengetahuan kukejar demi mempersiapkan sumbangsihku yang lebih besar bagi umat. Jangan salah berpikir mengapa aku sibuk mengejar ilmu, strata satu, dua, tiga hingga ke negeri seberang. Sebab aku tak mau terlalu resah, sibuk memikirkanmu. Waktuku terlalu berharga untuk menangisimu. Ummat masih menanti muslimah sepertiku, berkiprah menyelesaikan masalah-masalah yang semakin berkembang dan kompleks dari waktu ke waktu.
Aku dan Dakwah
Aku masih belum selevel bunda Aisyah ra yang menghafal ribuan hadits. Belum selevel Jahanara, putri Shah Jahan yang menelusuri jalan tasawuf usai bertikai dengan Aurangzeb, penguasa dinasti Mughal. Belum setara dengan Tawakkul Karman, peraih nobel perdamaian. Belum setara dengan Zaynab Al Ghazali atau Lathifah as Shuli, perempuan terhormat dalam pergerakan di Mesir.
Tapi benakku dipenuhi bagaimana mengentaskan muslimah kampus agar lebih memahami Islam secara utuh, bagaimana mengentaskan ibu-ibu dari keterpurukan ekonomi, bagaimana agar anak dan remaja tidak tumbuh di jalanan. Bagaimana agar kita punya kontribusi pada kehidupan bangsa dan negara.
Dirimu, berada pada layer terakhir di benakku. Tentu, terselip keinginan untuk meraih tanganmu, bersama menapaki jalan yang penuh onak duri tetapi juga dipenuhi harapan dan kesempatan luas terbentang.
Aku dan Waktu
Aku tahu, hidup dibatasi waktu.
Setiap tahapan usia memiliki tugasnya masing-masing.
Tapi aku tak mau dibatasi oleh budaya yang mengatakan bahwa usia lah yang memastikan perempuan harus memasuki usia pernikahan. Tak ada yang mampu memaksakan usia. Siapa dapat memastikan aku memilikimu di usia 20, 23, 25, 30 atau 38 bahkan 40 nanti?
Aku tak memusuhi waktu, sebab, ia adalah salah satu sumpah Tuhan dalam al Ashr. Aku, bersahabat dengan waktu. Tak akan kuhitung tahun, bulan, pekan, hari apalagi detik hanya untuk memuja namamu dan menantimu mengetuk pintu rumah orangtuaku.
Kau ada di sini, dalam hatiku, tetapi kusimpan rapi dan kulipat baik-baik dengan lapisan cinta dan malu. Aku tak akan memaksakan waktuku padamu, padaku, atau pada siapapun sebab setiap kejadian memiliki dimensinya sendiri-sendiri. Waktu yang kumiliki akan kuisi dengan sebaik-baik bekal, bagai backpacker yang mempersiapkan isi ranselnya dengan perkakas yang penting dan tepat. Lebih baik kuiisi waktu dengan menghafal Quran, membaca buku-buku, mengkaji ulang catatan pengajianku , berburu ladang dakwah baru, berbakti pada orangtuau, mengasuh adik-adikku dan bersilaturrahmi dengan karib kerabat; dan tentu saja, mengisi dahaga akan ilmu.
I am and Somewhere Out There
Aku, tak sama dengan perempuan yang kau temui di jalan-jalan. Yang menghabiskan waktu di depan cermin dengan mematut diri, berhitung, klinik kecantikan mana lagi yang bisa dikunjungi. Aku, tak sama dengan perempuan yang sibuk berhitung, kelak suamiku berpenghasilan berapa sehingga mengajakku keliling Eropa?
Aku tak ada di cafe, when night is still young.
Aku tak ada di mall ketika di akhir pekan, berburu tas Hermes dan sepatu atau discount baju.
Aku tak selalu ada di dunia maya, memandangi wajah kharismatikmu di foto profil , yang sering melempar nasehat berharga dan banyak gadis terhenyak dibuatnya.
Kalau kau mau mencariku, jasadku berada di belantara ladang-ladang dakwah. Di masjid, di perpustakaan, di kampus, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman kampus; bersama kaum perempuan dan anak-anak, berbagi ilmu. Kalau kau mencariku, ruhku berada di outer space, ketika sepertiga malam. Mungkin kau bisa menemuiku di sana, saat kita tengah bermunajat bersama – meski tempat berbeda.
Ketika gelombang elektromagentik cinta kita beradu dalam aura makrokosmos yang sama.
Aku, berbeda dengan perempuan yang biasa kau temui.
Maharku mungkin murah.
Tetapi nilaiku, tak setara dengan emas yang kau bayarkan, insyaAllah.
Jadi, kuharap kau mengerti.
Kalau aku tak akan berkeliaran mencarimu, mengejar-ngejarmu.
Semakin lama kau menunda waktu, memperpanjang list yang kau gunakan untuk meminang bidadarimu : yang cantik, yang mapan, berkarir, lulus dengan pendidikan strata tertentu, dari kalangan terhormat.
Aku, biasa-biasa saja. Kecantikan istimewaku pada busana rapi dan kerudung yang kukenakan; pada lisan yang kuusahakan bertutur dengan isi yang bernas. Kedua orangtuaku hanya orang biasa, dan aku adalah tonggak keluarga. Aku mungkin tak akan membuat heartbeat mu berdetak ribuan kali lebih cepat.
Aku, mungkin hanya menawarkan sedikit. Untuk menghidupkan malammu. Untuk menjaga kehormatan, dunia dan akhiratmu. Pemikiran dan senyumku, semoga kelak bisa menaungi hatimu yang resah dan kelelahan. Jika, kau masih memimpikan daftar penantian akan bidadarimu, silakan. Mungkin namaku tak masuk disitu.
Meski waktu bersanding kegelisahan dan lelah; semakin aku tangguh dan kuat dalam penantian serta munajat kepadaNya.
Aku yakin, Ia akan memilihkan seseorang yang tepat dan baik untukku, mungkin itu bukan dirimu. Aku justru mengkhawatirkan dirimu, yang terlalu lama menunda dan menanti, membuat daftar yang semakin panjang; maka kau tak akan mendapatkan perempuan sepertiku. Sebab semakin lama, bukan diin atau dakwah yang menjadi pertimbanganmu. Dunia dan kecantikan, yang kau sebut-sebut diperbolehkan oleh baginda Rasul Saw, membuatmu semakin pemilih.
Aku punya sebuah kisah yang mungkin layak disimak utntuk pemuda sepertimu.
**************
Ahmad bin Aiman, sekretaris Ibn Thulun datang ke Bashrah. Ia disambut oleh Muslim bin Umran, saudagar terkaya . Muslim bin Umran, bukan hanya kayaraya tetapi juga tampan dan kharismatik. Dalam jamuan makan kebesaran, datanglah kedua anak Muslim bin Umran. Mereka berdua sangat sopan santun, ingin berbicara dengan ayahnya dan menunggu kesempatan sang ayah datang. Ketampanan kedua anak itu mencengangkan para tamu, bukan itu saja, sikap yang sangat serasi antara akhlaq, pakaian dan rupanya membuat para tamu berbisik.
“Subhanallah,” decak Ibn Aiman. “Ibu anak ini pasti melebihi bidadari kecantikannya!”
Muslim bin Umran hanya tersenyum mendengar pujian para tamu dan berkata,” aku hanya ingin mengharapkan anda memintakan perlindungan Allah untuk mereka.”
Seluruh tamu penasaran dengaa kehidupan pribadi Muslim bin Umran, apalagi dengan kebahagiaan yang terlimpah demikian sempurna. Mereka memuji, megatakan kepandaian Ibn Umran memilih istri yagn tentunya cantik jelita dan dari keluarga terpandang. tentu hal yang masuk akal bila Ibn Umran yag kaya da tampan mengambil gadis bangsawan. Siapa yang dapat menolak nya?
Maka Muslim bin Umran berkisah mengenai masa mudanya.
Ia adalah pemuda petualang, suka berkelana, menimba ilmu. Hingga suatu hari tibalah di Balakh, ibukota Khurasan. Seorang Imam sholih bernama Abu Abdullah al Balakhi tengah membicarakan sebuah hadits dalam majelis,
“….seorang wanita yang hitam lebih baik dari wanita cantik yang mandul.”
Muslim bin Umran , yang muda dan penuh gairah, merasa belum pernah mendengar hadits tersebut. Apalagi penjelasan al Balakhi demikian mengesankan. Al Balakhi mengatakan bahwa, bahasa Arab sangat tinggi muatan sastranya. Rasulullah Saw senantiasa menghindarkan kata-kata celaan yang menyakitkan.
Al Balakhi mengatakan, bahwa makna “hitam” adalah salah satu istilah tersendiri, bukan makna hitam sesungguhnya. Hitam yang dimaksud adalah apa yang dibenci kaum lelaki dari wanita dalam hal bentuk dan rupa; menunjukan wanita yang tubuh dan auratnya tidak memenuhi selera. Ini dipakai Rasulullah Saw untuk mengangkat derajat & harkat wanita.
Al Balakhi melanjutkan, seorang perempuan yang cacat dan tidak cantik di mata orang lain, akan tampak menarik di mata anak-anaknya; bahkan lebih cantik dari ratu singgasana. Itulah penglihatan batin yang merasuk ke kedalaman makna. Jika menukik ke kedalaman jiwa, akan tampak kecantikan & keindahannya. Kehormatan perempuan terletak pada fitrah keibuannya. Meski perempuan itu jelek rupanya, jika ia memiliki fitrah keibuan maka ia jauh lebih cantik dari perempuan yang idnah raut wajahnya tetapi tidak menunjukkan fitrah sejatinya.
Hati dan akal harus diutamakan sebab mereka adalah dua pertiganya, bukan justru sepertiga yang harusdiutamakan.
Sembari menceritakan ulang ksiah perjalanan masa mudanya bertemu Al Balakhi, Muslim bin Umran menambahkan ayat,”…sekiranya engkau membenci sesuatu sedang di sana Allah SWT memberikan banyak kelebihan dan kebaikan padanya…
Ibn Aiman melompat gembira.
“Ini adalah kata-kata malaikat yang kudengar dari lisanmu kawan, ya Umran!”
“Apalagi jika kau dengar sendiri dari Abdullah Al Balakhi,” jawab Muslim. “Dialah yang membuatku suka pada yang jelek, cacat dan hitam. Setelah aku melihat diriku secara jujur , aku menginginkan istri yang berinsan kamil, berakhlaq mulia. Aku tak peduli apakah ia cantik, manis ataupun jelek dan buruk rupa. Jika kewanitaan yang dicari itu ada pada setiap wanita, tetapi untuk akal belum tentu ada pada setiap wanita.”
Maka kemudian, Muslim bin Umran meminang seorang gadis.
Siapa oraagntua si gadis, tidak terlalu disebut. Sebut saja namanya syaikh Ahmad. Syaikh Ahmad menolak puluhan pelamar, menjaga putrinya dengan ketat dan menerima Muslim bin Umran. Ketika malam pertama Muslim melihat sang perempuan, seketika teringatlah ucapan Al Balakhi.
Di hadapannya berdiri seorang yang jelek dan cacat.
Tetapi gadis itu, dengan rendah hati memegang tangannya,
“Tuanku, akulah rahasia yang dijaga ayahku demikian ketat. Ia menerimamu sebab percaya padamu. “
Gadis itu mengambil kotak perhiasan.
“Ini adalah hartaku. Allah SWT menghalalkan Tuan mengambil istri lagi. Pakaialah harta ini jika Tuan mengiginkan kecantikan.”
Muslim bin Umran, demikian teringat akan nasehat Al Balakhi. Dengan lemah lembut ia berkata,
”Demi Allah, percayalah....kau akan kujadikan sebagian dari duniaku, dari segi apa yang yang dibutuhka pria dari wanita. Aku hanya akan menempatkan kau sebagai satu-satunya dalam hatiku. Kaulah wanita satu-satunya, akan akan menutup rapat mataku untuk wanita lain dan tak akan berpaling.”
Gadis itu, ternyata seorang yang cerdas dan baik hati. Semakin lama terlihat segar dan menyenangkan. Perlahan menghilang kejelekannya, yang tampak hanyalah akal dan kecerdasannya. Ia menjadi istri kesayangan saudagar terkaya Bashra, Muslim bin Umran.
Para tamu di jamuan itu ternganga, terhenyak. tak menyangka seseorang seperti Muslim bin Umran memiliki istri yang jauh dari perkiraan mereka! Mereka merasa sangat malu di hadapan Muslim bin Umran yang memiliki keluhuran budi tak terduga
Ibn Aiman terharu.
Muslim memandangnya tersenyum,
”..lihatlah kedua anakku yang elok, Saudaraku. Kurnia Allah , mukjizat keimanan.....”
*************
You are
the real diamond among the strong stones
The real pearl in the dark sea
The shining star in night sky
You are ~Rose~
Among the beautiful flowers
all of my beloved muslimah sisters
Who still waiting for the real knight
Perempuan sepertiku tak banyak.
Jangan tertipu oleh angka statistic yang mengatakan, perbandingan lelaki dan perempuan melebihi 1 : 4. Ada banyak kaum hawa di luar sana, tetapi percayalah, yang sepertiku hanya terbatas jumlahnya. Kalau kau bertanya-tanya, seperti apakah aku hingga sedemikian yakinnya, silakan renungkan.
Aku dan Dirimu
Antara aku dan dirimu dibatasi oleh rasa malu dan cinta.
Aku mencintai Robb ku melebihi segalanya, setingkat di bawahnya adalah lelaki paling mulia bernama Muhammad ibn Abdillah Saw. Setingkat di bawahnya adalah para shahabat, para salafus sholih. Setingkat di bawahnya lagi adalah para ulama dan ustadz di zaman ini yang selalu menyiangi taman hatiku dengan nasihat mereka. Layer terbawahnya adalah dirimu.
Jangan khawatir, aku selalu menyisihkan waktu untuk mendoakanmu menjadi pemimpin sejati, meski porsimu hanya kecil di hatiku.
Cintaku padamu, meski tak mutlak, tetap utuh dan sempurna. Sebab ia disempurnakan oleh rasa malu. Malu pada Robb ku jika aku masih meminta sesuatu pada sesuatu selain dariNya. Malu pada Nabiku yang dalam pikirannya hanya terpikir ummat, ummat, ummat; tak tersedia secuil hasrat cinta picisan yang mungkin, sesekali masih menghampiri makhluk sepertiku.
Aku dan Ilmu
Untuk lebih memahami dunia dengan segala permasalahannya, kapal besar yang akan membawa kita menuju negeri abadi, aku membutuhkan ilmu pengetahuan. Karenanya jangan heran, bila sebagian besar waktuku selain terisi oleh ibadah mahdhoh dan nawafil; kupergunakan untuk menimba ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang berada di majelis para sholihin atau di bangku akademis.
Jika, kemudian aku tak menemukanmu, pada akhirnya ilmu pengetahuan kukejar demi mempersiapkan sumbangsihku yang lebih besar bagi umat. Jangan salah berpikir mengapa aku sibuk mengejar ilmu, strata satu, dua, tiga hingga ke negeri seberang. Sebab aku tak mau terlalu resah, sibuk memikirkanmu. Waktuku terlalu berharga untuk menangisimu. Ummat masih menanti muslimah sepertiku, berkiprah menyelesaikan masalah-masalah yang semakin berkembang dan kompleks dari waktu ke waktu.
Aku dan Dakwah
Aku masih belum selevel bunda Aisyah ra yang menghafal ribuan hadits. Belum selevel Jahanara, putri Shah Jahan yang menelusuri jalan tasawuf usai bertikai dengan Aurangzeb, penguasa dinasti Mughal. Belum setara dengan Tawakkul Karman, peraih nobel perdamaian. Belum setara dengan Zaynab Al Ghazali atau Lathifah as Shuli, perempuan terhormat dalam pergerakan di Mesir.
Tapi benakku dipenuhi bagaimana mengentaskan muslimah kampus agar lebih memahami Islam secara utuh, bagaimana mengentaskan ibu-ibu dari keterpurukan ekonomi, bagaimana agar anak dan remaja tidak tumbuh di jalanan. Bagaimana agar kita punya kontribusi pada kehidupan bangsa dan negara.
Dirimu, berada pada layer terakhir di benakku. Tentu, terselip keinginan untuk meraih tanganmu, bersama menapaki jalan yang penuh onak duri tetapi juga dipenuhi harapan dan kesempatan luas terbentang.
Aku dan Waktu
Aku tahu, hidup dibatasi waktu.
Setiap tahapan usia memiliki tugasnya masing-masing.
Tapi aku tak mau dibatasi oleh budaya yang mengatakan bahwa usia lah yang memastikan perempuan harus memasuki usia pernikahan. Tak ada yang mampu memaksakan usia. Siapa dapat memastikan aku memilikimu di usia 20, 23, 25, 30 atau 38 bahkan 40 nanti?
Aku tak memusuhi waktu, sebab, ia adalah salah satu sumpah Tuhan dalam al Ashr. Aku, bersahabat dengan waktu. Tak akan kuhitung tahun, bulan, pekan, hari apalagi detik hanya untuk memuja namamu dan menantimu mengetuk pintu rumah orangtuaku.
Kau ada di sini, dalam hatiku, tetapi kusimpan rapi dan kulipat baik-baik dengan lapisan cinta dan malu. Aku tak akan memaksakan waktuku padamu, padaku, atau pada siapapun sebab setiap kejadian memiliki dimensinya sendiri-sendiri. Waktu yang kumiliki akan kuisi dengan sebaik-baik bekal, bagai backpacker yang mempersiapkan isi ranselnya dengan perkakas yang penting dan tepat. Lebih baik kuiisi waktu dengan menghafal Quran, membaca buku-buku, mengkaji ulang catatan pengajianku , berburu ladang dakwah baru, berbakti pada orangtuau, mengasuh adik-adikku dan bersilaturrahmi dengan karib kerabat; dan tentu saja, mengisi dahaga akan ilmu.
I am and Somewhere Out There
Aku, tak sama dengan perempuan yang kau temui di jalan-jalan. Yang menghabiskan waktu di depan cermin dengan mematut diri, berhitung, klinik kecantikan mana lagi yang bisa dikunjungi. Aku, tak sama dengan perempuan yang sibuk berhitung, kelak suamiku berpenghasilan berapa sehingga mengajakku keliling Eropa?
Aku tak ada di cafe, when night is still young.
Aku tak ada di mall ketika di akhir pekan, berburu tas Hermes dan sepatu atau discount baju.
Aku tak selalu ada di dunia maya, memandangi wajah kharismatikmu di foto profil , yang sering melempar nasehat berharga dan banyak gadis terhenyak dibuatnya.
Kalau kau mau mencariku, jasadku berada di belantara ladang-ladang dakwah. Di masjid, di perpustakaan, di kampus, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman kampus; bersama kaum perempuan dan anak-anak, berbagi ilmu. Kalau kau mencariku, ruhku berada di outer space, ketika sepertiga malam. Mungkin kau bisa menemuiku di sana, saat kita tengah bermunajat bersama – meski tempat berbeda.
Ketika gelombang elektromagentik cinta kita beradu dalam aura makrokosmos yang sama.
Aku, berbeda dengan perempuan yang biasa kau temui.
Maharku mungkin murah.
Tetapi nilaiku, tak setara dengan emas yang kau bayarkan, insyaAllah.
Jadi, kuharap kau mengerti.
Kalau aku tak akan berkeliaran mencarimu, mengejar-ngejarmu.
Semakin lama kau menunda waktu, memperpanjang list yang kau gunakan untuk meminang bidadarimu : yang cantik, yang mapan, berkarir, lulus dengan pendidikan strata tertentu, dari kalangan terhormat.
Aku, biasa-biasa saja. Kecantikan istimewaku pada busana rapi dan kerudung yang kukenakan; pada lisan yang kuusahakan bertutur dengan isi yang bernas. Kedua orangtuaku hanya orang biasa, dan aku adalah tonggak keluarga. Aku mungkin tak akan membuat heartbeat mu berdetak ribuan kali lebih cepat.
Aku, mungkin hanya menawarkan sedikit. Untuk menghidupkan malammu. Untuk menjaga kehormatan, dunia dan akhiratmu. Pemikiran dan senyumku, semoga kelak bisa menaungi hatimu yang resah dan kelelahan. Jika, kau masih memimpikan daftar penantian akan bidadarimu, silakan. Mungkin namaku tak masuk disitu.
Meski waktu bersanding kegelisahan dan lelah; semakin aku tangguh dan kuat dalam penantian serta munajat kepadaNya.
Aku yakin, Ia akan memilihkan seseorang yang tepat dan baik untukku, mungkin itu bukan dirimu. Aku justru mengkhawatirkan dirimu, yang terlalu lama menunda dan menanti, membuat daftar yang semakin panjang; maka kau tak akan mendapatkan perempuan sepertiku. Sebab semakin lama, bukan diin atau dakwah yang menjadi pertimbanganmu. Dunia dan kecantikan, yang kau sebut-sebut diperbolehkan oleh baginda Rasul Saw, membuatmu semakin pemilih.
Aku punya sebuah kisah yang mungkin layak disimak utntuk pemuda sepertimu.
**************
Ahmad bin Aiman, sekretaris Ibn Thulun datang ke Bashrah. Ia disambut oleh Muslim bin Umran, saudagar terkaya . Muslim bin Umran, bukan hanya kayaraya tetapi juga tampan dan kharismatik. Dalam jamuan makan kebesaran, datanglah kedua anak Muslim bin Umran. Mereka berdua sangat sopan santun, ingin berbicara dengan ayahnya dan menunggu kesempatan sang ayah datang. Ketampanan kedua anak itu mencengangkan para tamu, bukan itu saja, sikap yang sangat serasi antara akhlaq, pakaian dan rupanya membuat para tamu berbisik.
“Subhanallah,” decak Ibn Aiman. “Ibu anak ini pasti melebihi bidadari kecantikannya!”
Muslim bin Umran hanya tersenyum mendengar pujian para tamu dan berkata,” aku hanya ingin mengharapkan anda memintakan perlindungan Allah untuk mereka.”
Seluruh tamu penasaran dengaa kehidupan pribadi Muslim bin Umran, apalagi dengan kebahagiaan yang terlimpah demikian sempurna. Mereka memuji, megatakan kepandaian Ibn Umran memilih istri yagn tentunya cantik jelita dan dari keluarga terpandang. tentu hal yang masuk akal bila Ibn Umran yag kaya da tampan mengambil gadis bangsawan. Siapa yang dapat menolak nya?
Maka Muslim bin Umran berkisah mengenai masa mudanya.
Ia adalah pemuda petualang, suka berkelana, menimba ilmu. Hingga suatu hari tibalah di Balakh, ibukota Khurasan. Seorang Imam sholih bernama Abu Abdullah al Balakhi tengah membicarakan sebuah hadits dalam majelis,
“….seorang wanita yang hitam lebih baik dari wanita cantik yang mandul.”
Muslim bin Umran , yang muda dan penuh gairah, merasa belum pernah mendengar hadits tersebut. Apalagi penjelasan al Balakhi demikian mengesankan. Al Balakhi mengatakan bahwa, bahasa Arab sangat tinggi muatan sastranya. Rasulullah Saw senantiasa menghindarkan kata-kata celaan yang menyakitkan.
Al Balakhi mengatakan, bahwa makna “hitam” adalah salah satu istilah tersendiri, bukan makna hitam sesungguhnya. Hitam yang dimaksud adalah apa yang dibenci kaum lelaki dari wanita dalam hal bentuk dan rupa; menunjukan wanita yang tubuh dan auratnya tidak memenuhi selera. Ini dipakai Rasulullah Saw untuk mengangkat derajat & harkat wanita.
Al Balakhi melanjutkan, seorang perempuan yang cacat dan tidak cantik di mata orang lain, akan tampak menarik di mata anak-anaknya; bahkan lebih cantik dari ratu singgasana. Itulah penglihatan batin yang merasuk ke kedalaman makna. Jika menukik ke kedalaman jiwa, akan tampak kecantikan & keindahannya. Kehormatan perempuan terletak pada fitrah keibuannya. Meski perempuan itu jelek rupanya, jika ia memiliki fitrah keibuan maka ia jauh lebih cantik dari perempuan yang idnah raut wajahnya tetapi tidak menunjukkan fitrah sejatinya.
Hati dan akal harus diutamakan sebab mereka adalah dua pertiganya, bukan justru sepertiga yang harusdiutamakan.
Sembari menceritakan ulang ksiah perjalanan masa mudanya bertemu Al Balakhi, Muslim bin Umran menambahkan ayat,”…sekiranya engkau membenci sesuatu sedang di sana Allah SWT memberikan banyak kelebihan dan kebaikan padanya…
Ibn Aiman melompat gembira.
“Ini adalah kata-kata malaikat yang kudengar dari lisanmu kawan, ya Umran!”
“Apalagi jika kau dengar sendiri dari Abdullah Al Balakhi,” jawab Muslim. “Dialah yang membuatku suka pada yang jelek, cacat dan hitam. Setelah aku melihat diriku secara jujur , aku menginginkan istri yang berinsan kamil, berakhlaq mulia. Aku tak peduli apakah ia cantik, manis ataupun jelek dan buruk rupa. Jika kewanitaan yang dicari itu ada pada setiap wanita, tetapi untuk akal belum tentu ada pada setiap wanita.”
Maka kemudian, Muslim bin Umran meminang seorang gadis.
Siapa oraagntua si gadis, tidak terlalu disebut. Sebut saja namanya syaikh Ahmad. Syaikh Ahmad menolak puluhan pelamar, menjaga putrinya dengan ketat dan menerima Muslim bin Umran. Ketika malam pertama Muslim melihat sang perempuan, seketika teringatlah ucapan Al Balakhi.
Di hadapannya berdiri seorang yang jelek dan cacat.
Tetapi gadis itu, dengan rendah hati memegang tangannya,
“Tuanku, akulah rahasia yang dijaga ayahku demikian ketat. Ia menerimamu sebab percaya padamu. “
Gadis itu mengambil kotak perhiasan.
“Ini adalah hartaku. Allah SWT menghalalkan Tuan mengambil istri lagi. Pakaialah harta ini jika Tuan mengiginkan kecantikan.”
Muslim bin Umran, demikian teringat akan nasehat Al Balakhi. Dengan lemah lembut ia berkata,
”Demi Allah, percayalah....kau akan kujadikan sebagian dari duniaku, dari segi apa yang yang dibutuhka pria dari wanita. Aku hanya akan menempatkan kau sebagai satu-satunya dalam hatiku. Kaulah wanita satu-satunya, akan akan menutup rapat mataku untuk wanita lain dan tak akan berpaling.”
Gadis itu, ternyata seorang yang cerdas dan baik hati. Semakin lama terlihat segar dan menyenangkan. Perlahan menghilang kejelekannya, yang tampak hanyalah akal dan kecerdasannya. Ia menjadi istri kesayangan saudagar terkaya Bashra, Muslim bin Umran.
Para tamu di jamuan itu ternganga, terhenyak. tak menyangka seseorang seperti Muslim bin Umran memiliki istri yang jauh dari perkiraan mereka! Mereka merasa sangat malu di hadapan Muslim bin Umran yang memiliki keluhuran budi tak terduga
Ibn Aiman terharu.
Muslim memandangnya tersenyum,
”..lihatlah kedua anakku yang elok, Saudaraku. Kurnia Allah , mukjizat keimanan.....”
*************
You are
the real diamond among the strong stones
The real pearl in the dark sea
The shining star in night sky
You are ~Rose~
Among the beautiful flowers
all of my beloved muslimah sisters
Who still waiting for the real knight
Merindukan Subuh
Sebagian dari kita
mungkin sudah pernah membaca buku “Keajaiban Shalat Subuh” atau buku “SUBUH on
FIRE” yang ditulis Nana W. el-Fariez. Sesuai dengan judul redaksinya, lewat
kedua buku itulah pertama kali saya menjadi tahu tentang keutamaan shalat
subuh. Bukan sekedar persoalan kewajiban menjalankan dua harakat. Namun lebih
dari itu. Banyak keistimewaan-keistimewaan diwaktu subuh.
“Barang siapa yang menunaikan shalat subuh maka ia berada
dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janjinya.
Barangsiapa yang membunuh orang yang menunaikan shalat subuh, Allah akan
menuntutnya sehingga ia akan dibenamkan mukanya ke dalam neraka” (H.R. Muslim, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Sebuah jaminan dari Allah
bagi para pelaku shalat subuh.
Salah satu yang
luar biasa lagi, diriwayatkan dari Ammarah bin Ruwainah ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda: ‘Tidak
akan masuk neraka orang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum
terbenam matahari.’” (H.R. Muslim). Terbebas dari api neraka. Keutamaan
lainnya ialah memperoleh keberkahan, pahala dunia dan seisinya, dikabulkannya
do’a dan yang paling penting shalat inilah pembeda antara orang-orang yang
MUNAFIQ.
Lepas dari
keutamaan-keutamaan itu. Sulit, itulah kata yang mewakili bagaimana saya dan
mungkin sebagian orang yang lain melaksanakan shalat subuh. Jelas saja, waktu
shubuh adalah waktu yang paling “enak” berada dipembaringan. Bisa jadi pun
sebenarnya tidak merasakan “enak” tersebut. Tau-tau
sudah terbangun setelah matahari telah menampakkan semua wajahnya. Bablas.
Terang saja,
berbagai cara sudah dilakukan. Untuk mengantisipasi, sebelum tidur terlebih
dahulu memasang alarm. Namun tetap saja terbangun setelah beberapa jam lewat
“waktu alarm”. Sesekali terbangun karena alarm tersebut, tapi bukan kemudian
bergegas untuk shalat melainkan mematikan alarm. Tidur jangan ditempat nyaman
(kasur), akhirnya tidur di lantai beralaskan karpet saja. Tetap saja “nyenyak”,
subuh lewat plus badan pegal.
Kegelisahan.
Menyesal. Kadang marah. Perasaan yang muncul saat bangun tidur
belakangan ini.
Subuh terlewatkan begitu saja. Prasangka terhadap diri sendiri semakin
kuat.
Pasti ada yang salah. Sesekali merenung. Ketika kondisi ini terjadi yang
teringat adalah kata-kata yang ada dibuku itu. Dikatakan bahwa kesulitan
shalat
subuh berjamaah bisa disebabkan oleh beberapa hal. Adanya makanan atau
zat yang haram masuk ke dalam tubuh atau banyak melakukan maksiat.
sebenarnya ada faktor-faktor lain lagi namun setidaknya dua faktor
tersebut yang
cukup menamparku.
Makanan haram? Ya
Allah... apa benar ada zat ini didalam tubuhku? Sehingga darah, daging dalam
tubuh ini seakan mati. tidak bisa merasakan apa-apa.
Banyak maksiat?
tidak bisa menjaga hati, tidak bisa menahan pandangan, tak mampu mengendalikan
bibir berbicara. Menutup mata, menarik nafas panjang. Astagfirullah... inilah
mungkin penyebab utamanya. Terbangun untuk subuh tidak, merasakan nyamannya
tidur pun tidak. Kotornya hati oleh dosa maksiat lagi-lagi tak mampu
menggerakkan tubuh ini untuk sekedar terbangun. Alarm sekeras apapun tetap saja
tidak berguna.
Benar. Benar bahwa
subuh itu adalah hadiah. Semua orang bisa shalat subuh, tapi tidak semua orang
bisa tepat waktu, tidak semua diberikan “kekuasaan” untuk berjamaah dimesjid.
Hadiah dari Allah untuk orang-orang terpilih.
Merindukan subuh.
Sangat merindukan subuh. Malu rasanya dengan tetangga, seorang bapak tua yang
subuh berjamaah beliau sepertinya tidak pernah absen. Malu kalau membayangkan
saat dia berangkat subuh dan lewat didepan rumah “anak muda” ini, apa yang akan
beliau katakan?
Dan lebih malu lagi
rasanya, “anak muda” ini dikampus mungkin dikenal sebagai seorang aktivis dakwah, aktif di Lembaga
Dakwah Kampus dll. Tidak salah, label MUNAFIQ mungkin pantas tersemat.
Naudzbillah...
Astagfirullah. Tak
pantas memperoleh jaminan bebas dari
neraka, tak ada keberkahan, terlewatkan waktu terkabulnya do’a dan dekat dengan
kemunafiqan..! Suara-suara itu menyelimuti jiwa. Serasa semakin menyempitkan
dada. Menyesal.
Ya Allah... aku
merindukan subuh.
Langganan:
Postingan (Atom)




