19/11/13

Ketika yang Tercinta telah Tiada..




Ketika engkau kehilangan orang yang kau sayangi..
Kau tidak akan begitu saja mudah untuk melupakannya..
Apalagi orang tersebut adalah ia yang bisa membuatmu berdiri tegak seperti sekarang..
Apalagi jika orang tersebut adalah orang tua kita..

Ibuku memang telah tiada 2 tahun yang lalu, nenek ku pun telah pergi 4 tahun yang lalu..
Namun, rasa kehilangan itu, seolah semakin membuka mata dan hatiku lebar-lebar untuk orang tua – orang tua yang lainnya..
Rasa kehilangan itu akan membuatmu ingin berbuat lebih pada orang lain, tak peduli mereka bukan saudara mu, tak peduli engkau tak pernah mengenal ataupun melihatnya sebelumnya..
Namun yang pasti, tak perlu menunggu kehilangan jika kau memang masih punya waktu..
Tak perlu menunggu menyesal jika memang bisa diperbaiki..

Entah karena masih punya rasa bersalah karena belum bisa sempurna dalam birrul walidain, tapi itulah yang ku rasa..
aku menganggap mereka, yang ku temui dalam kehidupan ini adalah orang tuaku.. aku tak ingin mengecewakan mereka, aku tak ingin melakukan kesalahan untuk yang kesekian kali..

Dan itulah memang yang Rasulullah ajarkan.. menyayangi, menghormati orang lain, orang tua, meskipun tidak mempunyai ikatan darah dengan kita..

Hikmahnya adalah, ketika engkau merasa memiliki sesuatu yang amat berharga dalam hidupmu, dan tiba-tiba saja dia pergi meninggalkanmu, maka engkau pasti akan merasa bersalah.. bersedih.. atau lebih tepatnya ingin mengulang kembali saat-saat bersamanya, dan kala itu kau tak ingin membuatnya kecewa..
Dan kau akan melampiaskan semua keinginanmu itu pada orang lain yang kau temui, bukan dengannya yang sama persis, tapi dengannya yang hampir sama..
karena tidak ada sesuatu yang di ciptakan sama persis,
Allah mempunyai setiap rahasia di balik ciptaan Nya, karena sesuatu yang telah tercipta karena kuasa Nya, tidak ada yang sia-sia..
namun, jangan lantas menunggu untuk merasa kehilangan seseorang itu, jika memang orang yang kau sayangi ada di sampingmu.. justru, itulah kesempatan yang telah Allah berikan pada mu, untuk mengujimu dengan waktu yang tersisa, apakah kamu membahagiakannya atau malah menyia-nyiakannya..

selayaknya, kita bisa belajar banyak dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW bagaimana cara menghormati orang lain.. sekalipun orang tersebut ternyata tidak se aqidah dengan kita, ataupun membenci kita..

inilah salah satu kisah Nabi yang membuat kita selayaknya merenung..

Di suatu sudut pasar Madinah Al-Munawarah, terdapat seorang pengemis tua yang buta berbangsa Yahudi, setiap hari apabila ada orang yang menghampirinya, dia selalu berkata, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir, apabila kamu mendekatinya kamu akan dipengaruhinya.”
.
Setiap pagi Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam mendatanginya dengan membawa makanan dan tanpa berkata sepatah perkataan pun, Baginda Sallallahu’alaihi wasallam menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam melakukannya sehingga menjelang Baginda wafat.
Setelah kewafatan Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
.
Suatu hari Abu Bakar, Radi-Allahu anhu, as-Siddiq berkunjung ke rumah anaknya Aisyah Radi-Allahu anha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Wahai anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah Radi-Allahu anha menjawab pertanyaan ayahandanya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah, hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja.”
“Apakah itu wahai anakku?”Tanya Abu Bakar Radi-Allahu anhu.
 “Setiap pagi Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yang buta yang berada di sana.” Jawab Aisyah Radi-Allahu anha.
.
Keesokan harinya, Abu Bakar Radi-Allahu anhu membawakan makanan dan menemui pengemis Yahudi buta tersebut.
Pengemis Yahudi buta ini selalu menjerit-jerit dan berkata kepada orang yang mendekatinya; “Wahai saudaraku… janganlah kamu mendekati Muhammad. Jangan sampai kamu terpedaya dengan tipu dayanya. Dia itu orang gila, tukang sihir, suka menyebarkan fitnah dengan agama barunya..!!”
Kata-kata itu kerap meluncur keluar dari mulut si pengemis tanpa henti setiap hari. Perkataan buruk yang merendahkan darjat seorang nabi. Abu Bakar Radi-Allahu anhu pun keheranan, kenapa Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam tetap memberi makan kepada orang yang menghinanya setiap hari.
.
Sesampainya di hadapan pengemis itu, Abu Bakar Radi-Allahu anhu terus memberikan makanan. Ketika Abu Bakar Radi-Allahu anhu mulai menyuapinya, pengemis itu menghardik sambil berteriak, “Siapakah engkau?”
Abu Bakar Radi-Allahu anhu menjawab, “Aku adalah orang yang setiap hari datang dan memberi kamu makan..”
Abu Bakar Radi-Allahu anhu meyakinkan bahawa beliau adalah orang yang setiap hari memberikan ia makanan. Akan tetapi pengemis Yahudi buta itu tidak percaya kerana orang yang selalu memberinya makanan jauh lebih lembut dan lebih sabar dalam menyuapinya.
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa setiap hari memberiku makan..!” Kata si pengemis buta itu.
“Apabila dia (Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam) datang ke sini, aku tidak pernah kesusahan memegang makananku dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri,” tambah pengemis itu menyambung kata.
Abu Bakar Radi-Allahu anhu tidak dapat menahan air matanya kerana terharu mendengar akhlak dari Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam. Baginda Sallallahu’alaihi wasallam selalu datang memberi makan dan menyuapi mulut orang yang setiap hari dari kata mulut itu, hanyalah ucapan kotor dan hina yang merendahkan dan melecehkan diri Baginda. Ucapan kotor dan umpatan dibalas dengan suapan makanan dengan kasih sayang. Allahu Akhbar!
.
Dengan linangan air mata, Abu Bakar Radi-Allahu anhu menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang setiap hari memberimu makan, aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Beliau tidak akan datang lagi ke sini untuk memberimu makan.”
Mendengar hal itu, pengemis itu menangis dan berkata, “Apa salahku sehingga dia sudah tidak mau menemuiku lagi? Sampaikan permintaan maafku sehingga dia mau mendatangiku lagi..”
“Orang yang mulia itu telah tiada. Beliau sudah meninggalkan dunia ini dan akulah yang akan menggantikan Beliau. Aku adalah Abu Bakar sahabat Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam adalah orang yang setiap hari menyuapimu..”  Kata Abu Bakar Radi-Allahu anhu.
.
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar Radi-Allahu anhu, seketika itu juga linangan air mata pengemis Yahudi buta makin deras membasahi pipinya, dia menangis menyesal dan kemudian berkata, “Benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya dan melecehkan harga dirinya, dia tidak pernah memarahiku sedikit pun, dia tetap mendatangiku setiap hari dengan membawa makanan dan dengan sabar menyuapiku, dia begitu mulia.”

Ketika itu juga, pengemis Yahudi tua yang buta tersebut mengucapkan dua kalimat Syahadah dan memeluk Islam di hadapan Abu Bakar Radi-Allahu anhu. Keperibadian Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah SWT..
.
Dari cerita ini, jelas sudah betapa tingginya akhlak Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Baginda tidak pernah membenci orang yang mengumpatnya. Bahkan Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam tidak pernah membenci orang Yahudi atau Nasrani.

Allahuma sholli ala syayiddina Muhammad, Wa’ala ali Muhammad…

-al kaffafa214-