Ketika engkau
kehilangan orang yang kau sayangi..
Kau tidak akan begitu
saja mudah untuk melupakannya..
Apalagi orang
tersebut adalah ia yang bisa membuatmu berdiri tegak seperti sekarang..
Apalagi jika
orang tersebut adalah orang tua kita..
Ibuku memang
telah tiada 2 tahun yang lalu, nenek ku pun telah pergi 4 tahun yang lalu..
Namun, rasa
kehilangan itu, seolah semakin membuka mata dan hatiku lebar-lebar untuk orang
tua – orang tua yang lainnya..
Rasa kehilangan
itu akan membuatmu ingin berbuat lebih pada orang lain, tak peduli mereka bukan
saudara mu, tak peduli engkau tak pernah mengenal ataupun melihatnya
sebelumnya..
Namun yang
pasti, tak perlu menunggu kehilangan jika kau memang masih punya waktu..
Tak perlu
menunggu menyesal jika memang bisa diperbaiki..
Entah karena
masih punya rasa bersalah karena belum bisa sempurna dalam birrul walidain,
tapi itulah yang ku rasa..
aku menganggap
mereka, yang ku temui dalam kehidupan ini adalah orang tuaku.. aku tak ingin
mengecewakan mereka, aku tak ingin melakukan kesalahan untuk yang kesekian
kali..
Dan itulah
memang yang Rasulullah ajarkan.. menyayangi, menghormati orang lain, orang tua,
meskipun tidak mempunyai ikatan darah dengan kita..
Hikmahnya
adalah, ketika engkau merasa memiliki sesuatu yang amat berharga dalam hidupmu,
dan tiba-tiba saja dia pergi meninggalkanmu, maka engkau pasti akan merasa
bersalah.. bersedih.. atau lebih tepatnya ingin mengulang kembali saat-saat
bersamanya, dan kala itu kau tak ingin membuatnya kecewa..
Dan kau akan
melampiaskan semua keinginanmu itu pada orang lain yang kau temui, bukan
dengannya yang sama persis, tapi dengannya yang hampir sama..
karena tidak ada
sesuatu yang di ciptakan sama persis,
Allah mempunyai
setiap rahasia di balik ciptaan Nya, karena sesuatu yang telah tercipta karena
kuasa Nya, tidak ada yang sia-sia..
namun, jangan
lantas menunggu untuk merasa kehilangan seseorang itu, jika memang orang yang
kau sayangi ada di sampingmu.. justru, itulah kesempatan yang telah Allah
berikan pada mu, untuk mengujimu dengan waktu yang tersisa, apakah kamu
membahagiakannya atau malah menyia-nyiakannya..
selayaknya, kita
bisa belajar banyak dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW bagaimana cara
menghormati orang lain.. sekalipun orang tersebut ternyata tidak se aqidah
dengan kita, ataupun membenci kita..
inilah salah
satu kisah Nabi yang membuat kita selayaknya merenung..
Di
suatu sudut pasar Madinah Al-Munawarah, terdapat seorang pengemis
tua yang buta berbangsa Yahudi, setiap hari
apabila ada orang yang menghampirinya, dia selalu berkata, “Wahai
saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir,
apabila kamu mendekatinya kamu akan dipengaruhinya.”
.
Setiap
pagi Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam mendatanginya dengan membawa
makanan dan tanpa berkata sepatah perkataan pun, Baginda Sallallahu’alaihi
wasallam menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun
pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.
Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam melakukannya sehingga menjelang
Baginda wafat.
Setelah
kewafatan Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam, tidak ada lagi orang
yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
.
Suatu
hari Abu Bakar, Radi-Allahu anhu, as-Siddiq berkunjung ke rumah anaknya
Aisyah Radi-Allahu anha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Wahai
anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah
Radi-Allahu anha menjawab pertanyaan ayahandanya, “Wahai ayah
engkau adalah seorang ahli sunnah, hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum
ayah lakukan kecuali satu sunnah saja.”
“Apakah
itu wahai anakku?”Tanya Abu
Bakar Radi-Allahu anhu.
“Setiap
pagi Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam selalu pergi ke hujung pasar dengan
membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yang buta yang berada di
sana.” Jawab Aisyah Radi-Allahu anha.
.
Keesokan
harinya, Abu Bakar Radi-Allahu anhu membawakan makanan dan menemui
pengemis Yahudi buta tersebut.
Pengemis
Yahudi buta ini selalu menjerit-jerit dan berkata kepada orang yang
mendekatinya; “Wahai saudaraku… janganlah kamu mendekati Muhammad. Jangan
sampai kamu terpedaya dengan tipu dayanya. Dia itu orang gila, tukang sihir,
suka menyebarkan fitnah dengan agama barunya..!!”
Kata-kata
itu kerap meluncur keluar dari mulut si pengemis tanpa henti setiap hari.
Perkataan buruk yang merendahkan darjat seorang nabi. Abu Bakar Radi-Allahu
anhu pun keheranan, kenapa Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam
tetap memberi makan kepada orang yang menghinanya setiap hari.
.
Sesampainya
di hadapan pengemis itu, Abu Bakar Radi-Allahu anhu terus memberikan
makanan. Ketika Abu Bakar Radi-Allahu anhu mulai menyuapinya, pengemis
itu menghardik sambil berteriak, “Siapakah engkau?”
Abu
Bakar Radi-Allahu anhu menjawab, “Aku adalah orang yang setiap
hari datang dan memberi kamu makan..”
Abu
Bakar Radi-Allahu anhu meyakinkan bahawa beliau adalah orang yang setiap
hari memberikan ia makanan. Akan tetapi pengemis Yahudi buta itu tidak percaya
kerana orang yang selalu memberinya makanan jauh lebih lembut dan lebih sabar
dalam menyuapinya.
“Bukan!
Engkau bukan orang yang biasa setiap hari memberiku makan..!” Kata si pengemis buta itu.
“Apabila
dia (Rasulullah Sallallahu’alaihi
wasallam) datang ke sini, aku tidak pernah kesusahan memegang makananku dan
tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu
menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya
setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri,” tambah pengemis itu menyambung kata.
Abu
Bakar Radi-Allahu anhu tidak dapat menahan air matanya kerana terharu
mendengar akhlak dari Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam. Baginda Sallallahu’alaihi
wasallam selalu datang memberi makan dan menyuapi mulut orang yang setiap
hari dari kata mulut itu, hanyalah ucapan kotor dan hina yang merendahkan dan
melecehkan diri Baginda. Ucapan kotor dan umpatan dibalas dengan suapan makanan
dengan kasih sayang. Allahu Akhbar!
.
Dengan
linangan air mata, Abu Bakar Radi-Allahu anhu menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang setiap
hari memberimu makan, aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Beliau tidak
akan datang lagi ke sini untuk memberimu makan.”
Mendengar
hal itu, pengemis itu menangis dan berkata, “Apa salahku sehingga dia
sudah tidak mau menemuiku lagi? Sampaikan permintaan maafku sehingga dia mau
mendatangiku lagi..”
“Orang
yang mulia itu telah tiada. Beliau sudah meninggalkan dunia ini dan akulah yang
akan menggantikan Beliau. Aku adalah Abu Bakar sahabat Muhammad
Sallallahu’alaihi wasallam. Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam adalah
orang yang setiap hari menyuapimu..” Kata Abu Bakar Radi-Allahu anhu.
.
Setelah
pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar Radi-Allahu anhu, seketika itu
juga linangan air mata pengemis Yahudi buta makin deras membasahi pipinya, dia
menangis menyesal dan kemudian berkata, “Benarkah demikian?, selama ini
aku selalu menghinanya, memfitnahnya dan melecehkan harga dirinya, dia tidak
pernah memarahiku sedikit pun, dia tetap mendatangiku setiap hari dengan
membawa makanan dan dengan sabar menyuapiku, dia begitu mulia.”
Ketika
itu juga, pengemis Yahudi tua yang buta tersebut mengucapkan dua kalimat Syahadah
dan memeluk Islam di hadapan Abu Bakar Radi-Allahu anhu. Keperibadian
Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam telah memikat jiwa pengemis itu
untuk mengakui ke-Esaan Allah SWT..
.
Dari
cerita ini, jelas sudah betapa tingginya akhlak Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi
wasallam. Baginda tidak pernah membenci orang yang mengumpatnya. Bahkan
Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam tidak pernah membenci orang Yahudi
atau Nasrani.
Allahuma sholli ala syayiddina Muhammad,
Wa’ala ali Muhammad…
-al kaffafa214-