Pernahkah anda memakan sayur
sop? Tentu jawabannya pasti, pernah. Tapi, pernahkah anda makan sayur sop, sisa
masak kemarin, yang kemudian di taruh di kulkas untuk kemudian dihangatkan
kembali? Jawabannya bisa jadi iya ataupun tidak.
Jika
anda punya pengalaman menghangatkan sayur sop sisa masak kemarin, yang biasanya
berisi berbagai jenis sayuran berwarna-warni seperti wortel, kentang, buncis,
daun bawang, tomat dan kol, tentu anda belum pernah terfikirkan bahwa sayuran-sayuran
yang menarik mata tersebut kandungan gizinya telah berkurang. Sayuran tersebut
seolah hanya sebagai hiasan penyejuk mata, dan pengenyang perut belaka, karena
dari aspek gizi, sayuran yang telah diolah terlalu lama, kandungan zat gizinya akan berkurang.
Pengaruh utama pemasakan terhadap nilai gizi sayur-sayuran adalah
hilangnya/rusaknya vitamin C, vitamin A dan Fe. Umumnya sayuran dan buah mentah
memiliki kandungan gizi lebih baik daripada produk olahan. Ketika diolah,
kehilangan zat gizi relative cukup banyak. Sayur yang telah dimasak akan
kehilangan 30–80% kandungan gizinya. Kerugian yang cukup besar tentunya.
Begitupula,
yodium yang ada di garam yang sudah diberi saat pengolahannya. Entah, pasti
yodium itu sudah menguap karena prosedur penambahannya yang tak benar. Perlu
diketahui, bahwa garam ditambahkan pada masakan saat suhunya kira-kira 700
celsius, agar yodium yang ada di dalamnya tidak hilang.
Filosofi Sayur Sop
Layaknya
zat gizi yang telah hilang di dalam sayur sop yang masih terlihat begitu
mempesona dan menggoda, seperti itulah amalan-amalan kita. Amalan-amalan yang
terkadang tanpa kita sadari, ternyata telah hilang menguap begitu saja, karena
niat kita yang salah, karena hati yang tak bersih, karena adanya unsur riya dan
rasa sombong, dan unsur penghilang pahala lainnya. Kita merasa sudah melakukan
banyak amalan, namun, belum tentu amalan-amalan yang telah kita lakukan
tersebut bernilai pahala di sisi Allah, belum tentu apa yang telah kita
kerjakan mendapatkan keridhoan dari Allah. Na’udzubillah min dzalik.
Bukankah
apa yang telah kita lakukan semata-mata mendapatkan keridhoan dari Allah? Karena
bagaimanapun, jika Allah tidak ridho, bagaimana mungkin amalan tersebut
berbalas pahala? Wallahu a’lam..
Kita
merasa bahwa apa yang telah kita lakukan itu begitu indah di pandang mata, kita
merasa akan diberi balasan syurga yang indah di sana, namun ternyata, amalan
itu sia-sia belaka..
"...(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul
dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa
yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat
(kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling
sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu),"
(QS. An Najm : 38-42)
Filosofi Jeruk dan Teh…
Lain
halnya dengan sayur sop, lain pula kisah si jeruk. Perlu diketahui bahwa buah jeruk
dapat mempercepat proses penyerapan kalsium.
Layaknya
sebuah amalan yang dapat mempengaruhi amalan lainnya apabila dilakukan secara
bersama-sama, dan saling bersinergi. Seperti ibadah sholat, dalam sebuah ayat
Al Qur’an disebutkan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan
munkar. Entah ini nyambung atau tidak dengan jeruk yang tadi, yang pasti
keduanya saling berhubungan. Dengan mengerjakan sholat (dengan khusyuk),
amalan-amalan lain akan terpancar darinya, sikap kita akan berkaitan dengan
ibadah sholat tadi, dan kita akan menjauhi perbuatan keji dan munkar, karena
tahu makna sholat yang kita kerjakan. Begitupun jeruk. Karena ia dimakan
bersama makanan lain yang mengandung kalsium, maka jeruk ini akan mempercepat
penyerapan kalsium tersebut.
Selain
jeruk yang dapat mempercepat proses penyerapan zat gizi, adapula zat yang dapat
menghambat penyerapan zat gizi. Dialah zat tanin yang terkandung dalam teh dan
kopi. Zat tanin yang terkandung dalam teh, dapat menghambat penyerapan zat
gizi. Jadi, jika kita makan tempe dengan teh, zat gizi luar biasa yang
terkandung dalam tempe, akan dihambat penyerapannya oleh zat tanin teh.
Begitupula
amalan kita. Ketika kita melakukan maksiat, atau melakukan amalan yang tidak
mendapatkan ridho dari Allah, do'a yang kita panjatkan pun akan terhambat.
Bagaimana do’a kita akan dikabulkan oleh Allah jika kita saja mendurhakai
Allah? Begitupun ketika meminum khamr maka sudah dipastikan pahala sholatnya
tidak akan diterima.
Tentu saja dalam kehidupan sehari-hari, kita akan memilih
untuk menjadi si jeruk yang baik hati dibandingkan si teh, si parasit.
Tentu
saja kita tak mau menjadi sayur sop olahan kemarin yang hanya sedap di pandang
mata, namun dari segi zat gizi telah berkurang. Tentu kita tak mau apa yang
telah kita lakukan, yang kita anggap itu baik dan yakin akan mendapatkan pahala
yang baik di sisi Allah, namun kenyataannya kosong, di mata Allah itu tiada
artinya. Seperti debu yang diterbangkan angin, seperti tanah di atas batu licin
yang kemudian hilang karena guyuran air hujan. Na’udzubillah min dzalik.
".. dan orang-orang kafir* amal-amal mereka adalah laksana
fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang
dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.
dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya
perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya[1042]"
(QS. An Nur : 39)
*Orang-orang kafir, karena
amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan Balasan dari
Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas
amalan mereka itu.
Dalam
ayat tersebut, pelaku yang disebutkan adalah orang-orang kafir, namun tidak ada
salahnya jika kita yang sudah merasa beriman kepada Allah untuk mengambil ibroh
dari gambaran ayat tersebut.
Perhatikan pula, penjelasan
Allah dalam Surah Al Kahfi ayat 103-105
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu
orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang
yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap)
perjumpaan dengan Dia, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak
mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS.
Al-Kahfi [18]: 103-105)
Sebagai
mahkluk yang mempunyai akal, mari perbaiki amalan-amalan kita. Perbaiki niat
kita yang belum lurus, ikhlaskan hati yang masih bengkok. Dan lakukan amalan
yang mempengaruhi dan mempercepat amalan lainnya.
Sebagai
makhluk yang dianugerahi akal, mari manfaatkan akal ini untuk memikirkan
rahasia-rahasia penciptaan Nya, mengambil hikmah dan ibroh dari alam sekitar
kita.
Mari,
perbanyak istighfar.. dan berdo’a, semoga kita bukan termasuk golongan yang
tidak mempunyai amal setitik pun ketika di yaumi hisab nanti.. semoga Allah
tetap mengistiqomahkan kita untuk tetap ikhlas beribadah kepada Nya, dan
meridhoi apa yang telah kita usahakan, agar ia tak menjadi amalan yang
sia-sia..
Sebagai penutup, silahkan renungkan
kutipan ini :
Jika kau
merasa besar, periksa hatimu
Mungkin
ia sedang bengkak
Jika kau
merasa suci, peiksa jiwamu
Mungkin
itu putihnya nanah dari luka nurani
Jika kau
mersa tinggi, periksa batinmu
Mungkin
ia sedang melayang kehilangan pijakan
Jika kau
merasa wangi, periksa ikhlasmu
Mungkin itu
asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya’
(Salim A
Fillah “Dalam Dekapan Ukhuwah”)
Wallahua'lam Bish Showab..
waw,,, sangat menarik filosofi sayur sop
BalasHapus