19/11/13

Ketika yang Tercinta telah Tiada..




Ketika engkau kehilangan orang yang kau sayangi..
Kau tidak akan begitu saja mudah untuk melupakannya..
Apalagi orang tersebut adalah ia yang bisa membuatmu berdiri tegak seperti sekarang..
Apalagi jika orang tersebut adalah orang tua kita..

Ibuku memang telah tiada 2 tahun yang lalu, nenek ku pun telah pergi 4 tahun yang lalu..
Namun, rasa kehilangan itu, seolah semakin membuka mata dan hatiku lebar-lebar untuk orang tua – orang tua yang lainnya..
Rasa kehilangan itu akan membuatmu ingin berbuat lebih pada orang lain, tak peduli mereka bukan saudara mu, tak peduli engkau tak pernah mengenal ataupun melihatnya sebelumnya..
Namun yang pasti, tak perlu menunggu kehilangan jika kau memang masih punya waktu..
Tak perlu menunggu menyesal jika memang bisa diperbaiki..

Entah karena masih punya rasa bersalah karena belum bisa sempurna dalam birrul walidain, tapi itulah yang ku rasa..
aku menganggap mereka, yang ku temui dalam kehidupan ini adalah orang tuaku.. aku tak ingin mengecewakan mereka, aku tak ingin melakukan kesalahan untuk yang kesekian kali..

Dan itulah memang yang Rasulullah ajarkan.. menyayangi, menghormati orang lain, orang tua, meskipun tidak mempunyai ikatan darah dengan kita..

Hikmahnya adalah, ketika engkau merasa memiliki sesuatu yang amat berharga dalam hidupmu, dan tiba-tiba saja dia pergi meninggalkanmu, maka engkau pasti akan merasa bersalah.. bersedih.. atau lebih tepatnya ingin mengulang kembali saat-saat bersamanya, dan kala itu kau tak ingin membuatnya kecewa..
Dan kau akan melampiaskan semua keinginanmu itu pada orang lain yang kau temui, bukan dengannya yang sama persis, tapi dengannya yang hampir sama..
karena tidak ada sesuatu yang di ciptakan sama persis,
Allah mempunyai setiap rahasia di balik ciptaan Nya, karena sesuatu yang telah tercipta karena kuasa Nya, tidak ada yang sia-sia..
namun, jangan lantas menunggu untuk merasa kehilangan seseorang itu, jika memang orang yang kau sayangi ada di sampingmu.. justru, itulah kesempatan yang telah Allah berikan pada mu, untuk mengujimu dengan waktu yang tersisa, apakah kamu membahagiakannya atau malah menyia-nyiakannya..

selayaknya, kita bisa belajar banyak dari suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW bagaimana cara menghormati orang lain.. sekalipun orang tersebut ternyata tidak se aqidah dengan kita, ataupun membenci kita..

inilah salah satu kisah Nabi yang membuat kita selayaknya merenung..

Di suatu sudut pasar Madinah Al-Munawarah, terdapat seorang pengemis tua yang buta berbangsa Yahudi, setiap hari apabila ada orang yang menghampirinya, dia selalu berkata, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir, apabila kamu mendekatinya kamu akan dipengaruhinya.”
.
Setiap pagi Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam mendatanginya dengan membawa makanan dan tanpa berkata sepatah perkataan pun, Baginda Sallallahu’alaihi wasallam menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam melakukannya sehingga menjelang Baginda wafat.
Setelah kewafatan Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
.
Suatu hari Abu Bakar, Radi-Allahu anhu, as-Siddiq berkunjung ke rumah anaknya Aisyah Radi-Allahu anha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Wahai anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah Radi-Allahu anha menjawab pertanyaan ayahandanya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah, hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja.”
“Apakah itu wahai anakku?”Tanya Abu Bakar Radi-Allahu anhu.
 “Setiap pagi Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yang buta yang berada di sana.” Jawab Aisyah Radi-Allahu anha.
.
Keesokan harinya, Abu Bakar Radi-Allahu anhu membawakan makanan dan menemui pengemis Yahudi buta tersebut.
Pengemis Yahudi buta ini selalu menjerit-jerit dan berkata kepada orang yang mendekatinya; “Wahai saudaraku… janganlah kamu mendekati Muhammad. Jangan sampai kamu terpedaya dengan tipu dayanya. Dia itu orang gila, tukang sihir, suka menyebarkan fitnah dengan agama barunya..!!”
Kata-kata itu kerap meluncur keluar dari mulut si pengemis tanpa henti setiap hari. Perkataan buruk yang merendahkan darjat seorang nabi. Abu Bakar Radi-Allahu anhu pun keheranan, kenapa Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam tetap memberi makan kepada orang yang menghinanya setiap hari.
.
Sesampainya di hadapan pengemis itu, Abu Bakar Radi-Allahu anhu terus memberikan makanan. Ketika Abu Bakar Radi-Allahu anhu mulai menyuapinya, pengemis itu menghardik sambil berteriak, “Siapakah engkau?”
Abu Bakar Radi-Allahu anhu menjawab, “Aku adalah orang yang setiap hari datang dan memberi kamu makan..”
Abu Bakar Radi-Allahu anhu meyakinkan bahawa beliau adalah orang yang setiap hari memberikan ia makanan. Akan tetapi pengemis Yahudi buta itu tidak percaya kerana orang yang selalu memberinya makanan jauh lebih lembut dan lebih sabar dalam menyuapinya.
“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa setiap hari memberiku makan..!” Kata si pengemis buta itu.
“Apabila dia (Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam) datang ke sini, aku tidak pernah kesusahan memegang makananku dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu dia berikan padaku dengan mulutnya sendiri,” tambah pengemis itu menyambung kata.
Abu Bakar Radi-Allahu anhu tidak dapat menahan air matanya kerana terharu mendengar akhlak dari Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam. Baginda Sallallahu’alaihi wasallam selalu datang memberi makan dan menyuapi mulut orang yang setiap hari dari kata mulut itu, hanyalah ucapan kotor dan hina yang merendahkan dan melecehkan diri Baginda. Ucapan kotor dan umpatan dibalas dengan suapan makanan dengan kasih sayang. Allahu Akhbar!
.
Dengan linangan air mata, Abu Bakar Radi-Allahu anhu menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang setiap hari memberimu makan, aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Beliau tidak akan datang lagi ke sini untuk memberimu makan.”
Mendengar hal itu, pengemis itu menangis dan berkata, “Apa salahku sehingga dia sudah tidak mau menemuiku lagi? Sampaikan permintaan maafku sehingga dia mau mendatangiku lagi..”
“Orang yang mulia itu telah tiada. Beliau sudah meninggalkan dunia ini dan akulah yang akan menggantikan Beliau. Aku adalah Abu Bakar sahabat Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam adalah orang yang setiap hari menyuapimu..”  Kata Abu Bakar Radi-Allahu anhu.
.
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar Radi-Allahu anhu, seketika itu juga linangan air mata pengemis Yahudi buta makin deras membasahi pipinya, dia menangis menyesal dan kemudian berkata, “Benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya dan melecehkan harga dirinya, dia tidak pernah memarahiku sedikit pun, dia tetap mendatangiku setiap hari dengan membawa makanan dan dengan sabar menyuapiku, dia begitu mulia.”

Ketika itu juga, pengemis Yahudi tua yang buta tersebut mengucapkan dua kalimat Syahadah dan memeluk Islam di hadapan Abu Bakar Radi-Allahu anhu. Keperibadian Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah SWT..
.
Dari cerita ini, jelas sudah betapa tingginya akhlak Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Baginda tidak pernah membenci orang yang mengumpatnya. Bahkan Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam tidak pernah membenci orang Yahudi atau Nasrani.

Allahuma sholli ala syayiddina Muhammad, Wa’ala ali Muhammad…

-al kaffafa214-

09/09/13

Aku Bukan Wanita Setegar Karang

Aku bukanlah wanita setegar karang..

Aku ingin menangis, tapi tak bisa..
Selalu ada yang berbisik, mengapa harus bersedih?
Aku hanya ingin menangis ketika rintik datang
Agar tak ada yang tau bahwa aku sedang menangis..

Aku lemah..
Tapi aku tak mau kau tau..
Bukanlah karena egoku terlalu tinggi
Tapi karena aku malu, jika mengeluhkan kelemahan ku ini pada selain Nya..


Jujur, aku tak pandai mengolah emosi di jiwa
Terkadang aku ingin berkata,
Aku lelah..
Tapi aku tetap tak bisa..
Yang ku bisa hanya menyimpannya rapat-rapat
Aku tak bisa mengungkapkan itu..


Aku ingin menangis..
Tapi aku malu, karena tangisku tak ada apanya jika tanpa menyadari segala khilafku..


Aku lemah, aku butuh bersandar..
Tapi aku tau, bukan pada mu..
Aku tak mau terlalu berharap pada makhluk,
Karena aku tau, yang mampu menguatkanku hanya Allah..


Itulah yang membuatku hanya bisa terdiam..
Dan hanya bisa menangis di kesunyian malam..


Aku ingin bercerita..
Tapi tak tau harus bercerita dari mana..
Dan bercerita apa..
Dan mulutku hanya bisa terbungkam..


Aku hanya ingin kau tau..
Bahwa aku bukanlah wanita setegar karang..

Mungkin, aku hanya bisa tersenyum..
Dan mengatakan, sebenarnya, aku tidak sedang baik-baik saja..


Dan hanya inilah penguat hati ku..

Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan." (Al-Fatihah: 6)

“ AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan ” (QS Al Baqarah : 286)

“ La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita ” (QS At Taubah : 40)

“ Hanya dengan mengingat KU hati akan menjadi tenang ” (QS Ar Ra'du : 28)

“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.”
(HR. Ahmad 1/391)

-al-kaffafa-

05/08/13

Filosofi Sayur Sop, Jeruk dan Teh



Pernahkah anda memakan sayur sop? Tentu jawabannya pasti, pernah. Tapi, pernahkah anda makan sayur sop, sisa masak kemarin, yang kemudian di taruh di kulkas untuk kemudian dihangatkan kembali? Jawabannya bisa jadi iya ataupun tidak.
            Jika anda punya pengalaman menghangatkan sayur sop sisa masak kemarin, yang biasanya berisi berbagai jenis sayuran berwarna-warni seperti wortel, kentang, buncis, daun bawang, tomat dan kol, tentu anda belum pernah terfikirkan bahwa sayuran-sayuran yang menarik mata tersebut kandungan gizinya telah berkurang. Sayuran tersebut seolah hanya sebagai hiasan penyejuk mata, dan pengenyang perut belaka, karena dari aspek gizi, sayuran yang telah diolah terlalu lama, kandungan zat gizinya akan berkurang. Pengaruh utama pemasakan terhadap nilai gizi sayur-sayuran adalah hilangnya/rusaknya vitamin C, vitamin A dan Fe. Umumnya sayuran dan buah mentah memiliki kandungan gizi lebih baik daripada produk olahan. Ketika diolah, kehilangan zat gizi relative cukup banyak. Sayur yang telah dimasak akan kehilangan 30–80% kandungan gizinya. Kerugian yang cukup besar tentunya.
            Begitupula, yodium yang ada di garam yang sudah diberi saat pengolahannya. Entah, pasti yodium itu sudah menguap karena prosedur penambahannya yang tak benar. Perlu diketahui, bahwa garam ditambahkan pada masakan saat suhunya kira-kira 700 celsius, agar yodium yang ada di dalamnya tidak hilang.

Filosofi Sayur Sop
            Layaknya zat gizi yang telah hilang di dalam sayur sop yang masih terlihat begitu mempesona dan menggoda, seperti itulah amalan-amalan kita. Amalan-amalan yang terkadang tanpa kita sadari, ternyata telah hilang menguap begitu saja, karena niat kita yang salah, karena hati yang tak bersih, karena adanya unsur riya dan rasa sombong, dan unsur penghilang pahala lainnya. Kita merasa sudah melakukan banyak amalan, namun, belum tentu amalan-amalan yang telah kita lakukan tersebut bernilai pahala di sisi Allah, belum tentu apa yang telah kita kerjakan mendapatkan keridhoan dari Allah. Na’udzubillah min dzalik.
            Bukankah apa yang telah kita lakukan semata-mata mendapatkan keridhoan dari Allah? Karena bagaimanapun, jika Allah tidak ridho, bagaimana mungkin amalan tersebut berbalas pahala? Wallahu a’lam..
            Kita merasa bahwa apa yang telah kita lakukan itu begitu indah di pandang mata, kita merasa akan diberi balasan syurga yang indah di sana, namun ternyata, amalan itu sia-sia belaka..
"...(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)," (QS. An Najm : 38-42)

Filosofi Jeruk dan Teh… 
            Lain halnya dengan sayur sop, lain pula kisah si jeruk. Perlu diketahui bahwa buah jeruk dapat mempercepat proses penyerapan kalsium.
            Layaknya sebuah amalan yang dapat mempengaruhi amalan lainnya apabila dilakukan secara bersama-sama, dan saling bersinergi. Seperti ibadah sholat, dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Entah ini nyambung atau tidak dengan jeruk yang tadi, yang pasti keduanya saling berhubungan. Dengan mengerjakan sholat (dengan khusyuk), amalan-amalan lain akan terpancar darinya, sikap kita akan berkaitan dengan ibadah sholat tadi, dan kita akan menjauhi perbuatan keji dan munkar, karena tahu makna sholat yang kita kerjakan. Begitupun jeruk. Karena ia dimakan bersama makanan lain yang mengandung kalsium, maka jeruk ini akan mempercepat penyerapan kalsium tersebut.
            Selain jeruk yang dapat mempercepat proses penyerapan zat gizi, adapula zat yang dapat menghambat penyerapan zat gizi. Dialah zat tanin yang terkandung dalam teh dan kopi. Zat tanin yang terkandung dalam teh, dapat menghambat penyerapan zat gizi. Jadi, jika kita makan tempe dengan teh, zat gizi luar biasa yang terkandung dalam tempe, akan dihambat penyerapannya oleh zat tanin teh.
            Begitupula amalan kita. Ketika kita melakukan maksiat, atau melakukan amalan yang tidak mendapatkan ridho dari Allah, do'a yang kita panjatkan pun akan terhambat. Bagaimana do’a kita akan dikabulkan oleh Allah jika kita saja mendurhakai Allah? Begitupun ketika meminum khamr maka sudah dipastikan pahala sholatnya tidak akan diterima.
            Tentu saja dalam kehidupan sehari-hari, kita akan memilih untuk menjadi si jeruk yang baik hati dibandingkan si teh, si parasit.
            Tentu saja kita tak mau menjadi sayur sop olahan kemarin yang hanya sedap di pandang mata, namun dari segi zat gizi telah berkurang. Tentu kita tak mau apa yang telah kita lakukan, yang kita anggap itu baik dan yakin akan mendapatkan pahala yang baik di sisi Allah, namun kenyataannya kosong, di mata Allah itu tiada artinya. Seperti debu yang diterbangkan angin, seperti tanah di atas batu licin yang kemudian hilang karena guyuran air hujan. Na’udzubillah min dzalik.
".. dan orang-orang kafir* amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya[1042]" (QS. An Nur : 39)
*Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan Balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.
            Dalam ayat tersebut, pelaku yang disebutkan adalah orang-orang kafir, namun tidak ada salahnya jika kita yang sudah merasa beriman kepada Allah untuk mengambil ibroh dari gambaran ayat tersebut.
Perhatikan pula, penjelasan Allah dalam Surah Al Kahfi ayat 103-105
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi [18]: 103-105)
            Sebagai mahkluk yang mempunyai akal, mari perbaiki amalan-amalan kita. Perbaiki niat kita yang belum lurus, ikhlaskan hati yang masih bengkok. Dan lakukan amalan yang mempengaruhi dan mempercepat amalan lainnya.
            Sebagai makhluk yang dianugerahi akal, mari manfaatkan akal ini untuk memikirkan rahasia-rahasia penciptaan Nya, mengambil hikmah dan ibroh dari alam sekitar kita.
            Mari, perbanyak istighfar.. dan berdo’a, semoga kita bukan termasuk golongan yang tidak mempunyai amal setitik pun ketika di yaumi hisab nanti.. semoga Allah tetap mengistiqomahkan kita untuk tetap ikhlas beribadah kepada Nya, dan meridhoi apa yang telah kita usahakan, agar ia tak menjadi amalan yang sia-sia..
Sebagai penutup, silahkan renungkan kutipan ini :
Jika kau merasa besar, periksa hatimu
Mungkin ia sedang bengkak
Jika kau merasa suci, peiksa jiwamu
Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani
Jika kau mersa tinggi, periksa batinmu
Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan
Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu
Mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya’
(Salim A Fillah “Dalam Dekapan Ukhuwah”)
Wallahua'lam Bish Showab..
-alkaffafa-

Filosofi Sayur Sop, Jeruk dan Teh



Pernahkah anda memakan sayur sop? Tentu jawabannya pasti, pernah. Tapi, pernahkah anda makan sayur sop, sisa masak kemarin, yang kemudian di taruh di kulkas untuk kemudian dihangatkan kembali? Jawabannya bisa jadi iya ataupun tidak.
            Jika anda punya pengalaman menghangatkan sayur sop sisa masak kemarin, yang biasanya berisi berbagai jenis sayuran berwarna-warni seperti wortel, kentang, buncis, daun bawang, tomat dan kol, tentu anda belum pernah terfikirkan bahwa sayuran-sayuran yang menarik mata tersebut kandungan gizinya telah berkurang. Sayuran tersebut seolah hanya sebagai hiasan penyejuk mata, dan pengenyang perut belaka, karena dari aspek gizi, sayuran yang telah diolah terlalu lama, kandungan zat gizinya akan berkurang. Pengaruh utama pemasakan terhadap nilai gizi sayur-sayuran adalah hilangnya/rusaknya vitamin C, vitamin A dan Fe. Umumnya sayuran dan buah mentah memiliki kandungan gizi lebih baik daripada produk olahan. Ketika diolah, kehilangan zat gizi relative cukup banyak. Sayur yang telah dimasak akan kehilangan 30–80% kandungan gizinya. Kerugian yang cukup besar tentunya.
            Begitupula, yodium yang ada di garam yang sudah diberi saat pengolahannya. Entah, pasti yodium itu sudah menguap karena prosedur penambahannya yang tak benar. Perlu diketahui, bahwa garam ditambahkan pada masakan saat suhunya kira-kira 700 celsius, agar yodium yang ada di dalamnya tidak hilang.

Filosofi Sayur Sop
            Layaknya zat gizi yang telah hilang di dalam sayur sop yang masih terlihat begitu mempesona dan menggoda, seperti itulah amalan-amalan kita. Amalan-amalan yang terkadang tanpa kita sadari, ternyata telah hilang menguap begitu saja, karena niat kita yang salah, karena hati yang tak bersih, karena adanya unsur riya dan rasa sombong, dan unsur penghilang pahala lainnya. Kita merasa sudah melakukan banyak amalan, namun, belum tentu amalan-amalan yang telah kita lakukan tersebut bernilai pahala di sisi Allah, belum tentu apa yang telah kita kerjakan mendapatkan keridhoan dari Allah. Na’udzubillah min dzalik.
            Bukankah apa yang telah kita lakukan semata-mata mendapatkan keridhoan dari Allah? Karena bagaimanapun, jika Allah tidak ridho, bagaimana mungkin amalan tersebut berbalas pahala? Wallahu a’lam..
            Kita merasa bahwa apa yang telah kita lakukan itu begitu indah di pandang mata, kita merasa akan diberi balasan syurga yang indah di sana, namun ternyata, amalan itu sia-sia belaka..
"...(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)," (QS. An Najm : 38-42)

Filosofi Jeruk dan Teh… 
            Lain halnya dengan sayur sop, lain pula kisah si jeruk. Perlu diketahui bahwa buah jeruk dapat mempercepat proses penyerapan kalsium.
            Layaknya sebuah amalan yang dapat mempengaruhi amalan lainnya apabila dilakukan secara bersama-sama, dan saling bersinergi. Seperti ibadah sholat, dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Entah ini nyambung atau tidak dengan jeruk yang tadi, yang pasti keduanya saling berhubungan. Dengan mengerjakan sholat (dengan khusyuk), amalan-amalan lain akan terpancar darinya, sikap kita akan berkaitan dengan ibadah sholat tadi, dan kita akan menjauhi perbuatan keji dan munkar, karena tahu makna sholat yang kita kerjakan. Begitupun jeruk. Karena ia dimakan bersama makanan lain yang mengandung kalsium, maka jeruk ini akan mempercepat penyerapan kalsium tersebut.
            Selain jeruk yang dapat mempercepat proses penyerapan zat gizi, adapula zat yang dapat menghambat penyerapan zat gizi. Dialah zat tanin yang terkandung dalam teh dan kopi. Zat tanin yang terkandung dalam teh, dapat menghambat penyerapan zat gizi. Jadi, jika kita makan tempe dengan teh, zat gizi luar biasa yang terkandung dalam tempe, akan dihambat penyerapannya oleh zat tanin teh.
            Begitupula amalan kita. Ketika kita melakukan maksiat, atau melakukan amalan yang tidak mendapatkan ridho dari Allah, do'a yang kita panjatkan pun akan terhambat. Bagaimana do’a kita akan dikabulkan oleh Allah jika kita saja mendurhakai Allah? Begitupun ketika meminum khamr maka sudah dipastikan pahala sholatnya tidak akan diterima.
            Tentu saja dalam kehidupan sehari-hari, kita akan memilih untuk menjadi si jeruk yang baik hati dibandingkan si teh, si parasit.
            Tentu saja kita tak mau menjadi sayur sop olahan kemarin yang hanya sedap di pandang mata, namun dari segi zat gizi telah berkurang. Tentu kita tak mau apa yang telah kita lakukan, yang kita anggap itu baik dan yakin akan mendapatkan pahala yang baik di sisi Allah, namun kenyataannya kosong, di mata Allah itu tiada artinya. Seperti debu yang diterbangkan angin, seperti tanah di atas batu licin yang kemudian hilang karena guyuran air hujan. Na’udzubillah min dzalik.
".. dan orang-orang kafir* amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya[1042]" (QS. An Nur : 39)
*Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan Balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.
            Dalam ayat tersebut, pelaku yang disebutkan adalah orang-orang kafir, namun tidak ada salahnya jika kita yang sudah merasa beriman kepada Allah untuk mengambil ibroh dari gambaran ayat tersebut.
Perhatikan pula, penjelasan Allah dalam Surah Al Kahfi ayat 103-105
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi [18]: 103-105)
            Sebagai mahkluk yang mempunyai akal, mari perbaiki amalan-amalan kita. Perbaiki niat kita yang belum lurus, ikhlaskan hati yang masih bengkok. Dan lakukan amalan yang mempengaruhi dan mempercepat amalan lainnya.
            Sebagai makhluk yang dianugerahi akal, mari manfaatkan akal ini untuk memikirkan rahasia-rahasia penciptaan Nya, mengambil hikmah dan ibroh dari alam sekitar kita.
            Mari, perbanyak istighfar.. dan berdo’a, semoga kita bukan termasuk golongan yang tidak mempunyai amal setitik pun ketika di yaumi hisab nanti.. semoga Allah tetap mengistiqomahkan kita untuk tetap ikhlas beribadah kepada Nya, dan meridhoi apa yang telah kita usahakan, agar ia tak menjadi amalan yang sia-sia..
Sebagai penutup, silahkan renungkan kutipan ini :
Jika kau merasa besar, periksa hatimu
Mungkin ia sedang bengkak
Jika kau merasa suci, peiksa jiwamu
Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani
Jika kau mersa tinggi, periksa batinmu
Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan
Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu
Mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya’
(Salim A Fillah “Dalam Dekapan Ukhuwah”)
Wallahua'lam Bish Showab..