05/08/13

Filosofi Sayur Sop, Jeruk dan Teh



Pernahkah anda memakan sayur sop? Tentu jawabannya pasti, pernah. Tapi, pernahkah anda makan sayur sop, sisa masak kemarin, yang kemudian di taruh di kulkas untuk kemudian dihangatkan kembali? Jawabannya bisa jadi iya ataupun tidak.
            Jika anda punya pengalaman menghangatkan sayur sop sisa masak kemarin, yang biasanya berisi berbagai jenis sayuran berwarna-warni seperti wortel, kentang, buncis, daun bawang, tomat dan kol, tentu anda belum pernah terfikirkan bahwa sayuran-sayuran yang menarik mata tersebut kandungan gizinya telah berkurang. Sayuran tersebut seolah hanya sebagai hiasan penyejuk mata, dan pengenyang perut belaka, karena dari aspek gizi, sayuran yang telah diolah terlalu lama, kandungan zat gizinya akan berkurang. Pengaruh utama pemasakan terhadap nilai gizi sayur-sayuran adalah hilangnya/rusaknya vitamin C, vitamin A dan Fe. Umumnya sayuran dan buah mentah memiliki kandungan gizi lebih baik daripada produk olahan. Ketika diolah, kehilangan zat gizi relative cukup banyak. Sayur yang telah dimasak akan kehilangan 30–80% kandungan gizinya. Kerugian yang cukup besar tentunya.
            Begitupula, yodium yang ada di garam yang sudah diberi saat pengolahannya. Entah, pasti yodium itu sudah menguap karena prosedur penambahannya yang tak benar. Perlu diketahui, bahwa garam ditambahkan pada masakan saat suhunya kira-kira 700 celsius, agar yodium yang ada di dalamnya tidak hilang.

Filosofi Sayur Sop
            Layaknya zat gizi yang telah hilang di dalam sayur sop yang masih terlihat begitu mempesona dan menggoda, seperti itulah amalan-amalan kita. Amalan-amalan yang terkadang tanpa kita sadari, ternyata telah hilang menguap begitu saja, karena niat kita yang salah, karena hati yang tak bersih, karena adanya unsur riya dan rasa sombong, dan unsur penghilang pahala lainnya. Kita merasa sudah melakukan banyak amalan, namun, belum tentu amalan-amalan yang telah kita lakukan tersebut bernilai pahala di sisi Allah, belum tentu apa yang telah kita kerjakan mendapatkan keridhoan dari Allah. Na’udzubillah min dzalik.
            Bukankah apa yang telah kita lakukan semata-mata mendapatkan keridhoan dari Allah? Karena bagaimanapun, jika Allah tidak ridho, bagaimana mungkin amalan tersebut berbalas pahala? Wallahu a’lam..
            Kita merasa bahwa apa yang telah kita lakukan itu begitu indah di pandang mata, kita merasa akan diberi balasan syurga yang indah di sana, namun ternyata, amalan itu sia-sia belaka..
"...(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu)," (QS. An Najm : 38-42)

Filosofi Jeruk dan Teh… 
            Lain halnya dengan sayur sop, lain pula kisah si jeruk. Perlu diketahui bahwa buah jeruk dapat mempercepat proses penyerapan kalsium.
            Layaknya sebuah amalan yang dapat mempengaruhi amalan lainnya apabila dilakukan secara bersama-sama, dan saling bersinergi. Seperti ibadah sholat, dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Entah ini nyambung atau tidak dengan jeruk yang tadi, yang pasti keduanya saling berhubungan. Dengan mengerjakan sholat (dengan khusyuk), amalan-amalan lain akan terpancar darinya, sikap kita akan berkaitan dengan ibadah sholat tadi, dan kita akan menjauhi perbuatan keji dan munkar, karena tahu makna sholat yang kita kerjakan. Begitupun jeruk. Karena ia dimakan bersama makanan lain yang mengandung kalsium, maka jeruk ini akan mempercepat penyerapan kalsium tersebut.
            Selain jeruk yang dapat mempercepat proses penyerapan zat gizi, adapula zat yang dapat menghambat penyerapan zat gizi. Dialah zat tanin yang terkandung dalam teh dan kopi. Zat tanin yang terkandung dalam teh, dapat menghambat penyerapan zat gizi. Jadi, jika kita makan tempe dengan teh, zat gizi luar biasa yang terkandung dalam tempe, akan dihambat penyerapannya oleh zat tanin teh.
            Begitupula amalan kita. Ketika kita melakukan maksiat, atau melakukan amalan yang tidak mendapatkan ridho dari Allah, do'a yang kita panjatkan pun akan terhambat. Bagaimana do’a kita akan dikabulkan oleh Allah jika kita saja mendurhakai Allah? Begitupun ketika meminum khamr maka sudah dipastikan pahala sholatnya tidak akan diterima.
            Tentu saja dalam kehidupan sehari-hari, kita akan memilih untuk menjadi si jeruk yang baik hati dibandingkan si teh, si parasit.
            Tentu saja kita tak mau menjadi sayur sop olahan kemarin yang hanya sedap di pandang mata, namun dari segi zat gizi telah berkurang. Tentu kita tak mau apa yang telah kita lakukan, yang kita anggap itu baik dan yakin akan mendapatkan pahala yang baik di sisi Allah, namun kenyataannya kosong, di mata Allah itu tiada artinya. Seperti debu yang diterbangkan angin, seperti tanah di atas batu licin yang kemudian hilang karena guyuran air hujan. Na’udzubillah min dzalik.
".. dan orang-orang kafir* amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya[1042]" (QS. An Nur : 39)
*Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan Balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.
            Dalam ayat tersebut, pelaku yang disebutkan adalah orang-orang kafir, namun tidak ada salahnya jika kita yang sudah merasa beriman kepada Allah untuk mengambil ibroh dari gambaran ayat tersebut.
Perhatikan pula, penjelasan Allah dalam Surah Al Kahfi ayat 103-105
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi [18]: 103-105)
            Sebagai mahkluk yang mempunyai akal, mari perbaiki amalan-amalan kita. Perbaiki niat kita yang belum lurus, ikhlaskan hati yang masih bengkok. Dan lakukan amalan yang mempengaruhi dan mempercepat amalan lainnya.
            Sebagai makhluk yang dianugerahi akal, mari manfaatkan akal ini untuk memikirkan rahasia-rahasia penciptaan Nya, mengambil hikmah dan ibroh dari alam sekitar kita.
            Mari, perbanyak istighfar.. dan berdo’a, semoga kita bukan termasuk golongan yang tidak mempunyai amal setitik pun ketika di yaumi hisab nanti.. semoga Allah tetap mengistiqomahkan kita untuk tetap ikhlas beribadah kepada Nya, dan meridhoi apa yang telah kita usahakan, agar ia tak menjadi amalan yang sia-sia..
Sebagai penutup, silahkan renungkan kutipan ini :
Jika kau merasa besar, periksa hatimu
Mungkin ia sedang bengkak
Jika kau merasa suci, peiksa jiwamu
Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani
Jika kau mersa tinggi, periksa batinmu
Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan
Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu
Mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya’
(Salim A Fillah “Dalam Dekapan Ukhuwah”)
Wallahua'lam Bish Showab..
-alkaffafa-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar