27/01/14

Perjalanan Dakwah Ini..

    Terbawalah saya pada sebuah penghujung, pada batas-batas dimana Allah dan orang lain akan menilai amal dan kerja yang telah saya lakukan, kemudian terperangah pada sebuah catatan kecil ini, catatan perjalanan panjang selama berdakwah di Fosti Poltekkes Jakarta II..
    Allah, Engkau begitu tahu tentang perjalanan dakwah ini, Engkau yang memberikan kesempatan pada kami mengenal Mu dengan amanah ini.. Engkau lah yang mempertemukan serta mempersatukan hati-hati kami.. terikat pada satu tujuan yang sama, mengukuhkan janji-janji untuk melukis pelangi bersama.. Maka ya Allah, himpun kami dalam dekapan cinta pada Mu dan juga golongkan kami sebagai orang-orang yang pandai bersyukur..
    Sulit rasanya menuliskan rangkaian kisah ini, karena begitu banyak uraian dan kisah yang selalu saja mewarnai perjalanan dakwah ini. Entah tanggal berapa tepatnya, saya pun lupa, ketika amanah ini Allah titipkan pada saya. Tak punya peta yang jelas, tak punya pengalaman menjadi seorang nahkoda, tapi harus terjun langsung mengemudikan perahu ini. Perahu yang banyak berlubang, ketika harus memperbaiki satu sisi, maka akan ada sisi lainnya yang harus diperbaiki. Bersyukur dipertemukan dengan orang-orang hebat yang bisa saling melengkapi, saling menasehati untuk menetapi kesabaran, saling menguatkan, saling berbagi suka dan duka, dalam indahnya kebersamaan.. Bersama, menguatkan perahu yang semakin lama semakin kencang badai yang menerpa.
    Saya masih ingat saat-saat syuro, saat diselingi tawa, walaupun lebih banyak seriusnya atau saling bertukar pikiran untuk menghasilkan mufakat. Saya masih ingat, bagaimana harus mengatur waktu, merekayasa keletihan hingga muncullah sebuah semangat. Saya masih ingat, ketika keletihan datang merayap, di tengah kesibukan pribadi masing-masing, di tengah padatnya dateline perkuliahan, di tengah masalah keluarga yang juga ikut menyertai, terkadang saya pun masih suka mengeluh, terkadang adapula yang memutuskan untuk mengundurkan diri, merasa jenuh. Terkadang masih sering merasa sendiri, terkadang harus pandai-pandai merekayasa suasana hati, agar yang terlihat adalah "aku masih baik-baik saja" luar tangguh, terkadang dalamnya rapuh. Atau menjadi lilin, untuk mencahayai yang lainnya, walaupun merelakan dirinya sendiri meleleh.
    Dari tawa riang di tengah kebingungan, juga tergambar di wajah-wajah kami, karena dari agenda-agenda yang dilaksanakan kadang kekurangan dana, kekurangan peserta dan lain hal yang bisa menghalangi agenda dakwah, tapi karena seringnya menemukan hal seperti itu, maka kami jadi terbiasa menjalaninya. Itulah Allah, yang memberikan keyakinan pada langkah-langkah ini hingga kami tetap istiqomah sampai akhir kepengurusan. Cita-cita besar akan perubahan yang lebih baik tidakah terukur dalam kurun waktu yang singkat, karena bangunan dakwah ini memerlukan waktu yang begitu panjang, dan perlu ada penerus sejarah yang menorehkan kisah tentang cita-cita besar yaitu kejayaan islam
    2 tahun mengemban amanah ini, membuat saya semakin cinta pada jalan ini.. Kecintaan saya yang tak mengenal warna, tak mengenal suatu golongan atau apapun, karena yang saya lakukan adalah, semata hanya karena Allah..
Dalam istilah jawa, sering disebutkan, "Witing tresno jalaran soko kulino" Cinta datang karena terbiasa, dan benarlah nasehat Ustadz Rahmat Abdullah, "Dakwah adalah cinta, dia akan meminta segalanya darimu.."
Saya masih ingat ketika banyak sekali dateline yang harus dikerjakan di tengah kesibukan UAS, hingga ketika saya harus menjawab soal "PHBS" (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) saya malah menjawab "PHBI" (Peringatan Hari Besar Islam). Semua fikiran dan mimpi-mimpi berisikan fosti..
    Dakwah ini mengajarkan saya banyak hal.. tentang perjuangan yang harus dilandasi keikhlasan, hingga setiap waktu harus berusaha memperbaiki niat, yang mudah goyah, yang mudah berubah.. Di sini, kita berjuang tanpa dibayar sepeserpun..
Dakwah ini ibarat sedang memasak, diperlukan racikan berbagai bumbu, agar rasanya enak, sedih, senang, harus diterima sebagai penambah cita rasa
Dakwah ini ibarat sedang membuat roti, walaupun berasal dari berbagai bahan berbeda, tapi mereka disatukan demi satu tujuan, menjadi sebuah roti
Bukan hanya sampai di sana, roti harus mendapat perlakuan seperti dipukul-pukul, di banting-banting, hingga mengembang.. hingga menjadi adonan yang sempurna
Dakwah ini bukan perjalanan yang indah, pasti akan ditemui jalanan yang terjal, berbatu, hingga bertaburan duri, jalan ini bukanlah jalan yang bertaburan bunga.. hingga hanya beberapa saja yang mampu bertahan.. dan Allah lah yang akan menyeleksi langsung orang-orang yang istiqomah di jalan Nya
Dakwah ini butuh kesolidan, satu lidi tidak bisa membersihkan kotoran, tapi dibutuhkan beberapa lidi yang terikat menjadi satu untuk bisa digunakan untuk menyapu..
    Untuk teman-teman seangkatan, seperjuangan..
Regenerasi bukanlah akhir dari segalanya, tidak ada kata pensiun dalam berdakwah, jika ragamu tak lagi bersama, toh hati kita masih menyatu, ide-ide masih bisa tersalurkan, kontribusi tidak hanya lewat fisik, tapi non fisik pun bisa..
- terinspirasi dari catatan laporan pertanggungjawaban akhi Marjuki Zulziar, ketua FSLDK JADEBEK -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar